Kamis, 24 April 2014

sejarah perkembangan orientalis



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa hubungan atau kontak antara Timur dengan Barat telah terjalin sejak ribuan tahun silam yang ditandai dengan perbenturan kepentingan maupun permusuhan. Sekitar tahun 600-330 SM telah terjadi hubungan perebutan kekuasaan antara Grik Tua dengan dinasti Achaemendis dari Imperium Parsi sejak masa pemerintahan Cyrus the Great (550-530 SM). Akibat kepentingan ini mendorong masing-masing pihak untuk saling mengenal dengan yang lainnya. Hubungan antara Timur dan Barat ini meninggalkan sebuah karya yang ditulis oleh Xenophon (431-378 SM) yang berjudul Anabasis yang mengisahkan 10.000 pasukan Grik yang terkepung di daerah Parsi.
Selanjutnya, ketika Yunani dan Romawi berhasil melakukan invasi ke Mesir, Aleksander menguasi kota Aleksandria. Kota ini dibangun oleh Aleksander Agung. Di masa ini penduduk yang ditaklukkan diwajibkan berpradaban Yunani, yang kemudian dikenal dengan hellenisme.
Sejak masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) yang berkedudukan di Damaskus diinstruksikan penggantian penggunaan bahasa untuk arsip-arsip resmi pemerintah dari bahasa setempat (Pahlevi, Kpti, Grik, Latin) ke bahasa Arab, maka sejak itu bahasa Arab telah menjadi lingua prance dalamhubungan-hubungan diplomatik, dagang, surat menyurat resmi, dunia kesusatraan dan kebudayaan, dunia ilmiah dan filsafat (Sou’yb, 1990:22). Oleh karena itu sejarah mencatat bahwa pada masa-masa damai sering terjadi perutusan diplomatik kaisar-kaisar Bizantium ke Bangdad ibu kota Daulah Abbasiyah sekitar tahun (750-1258) di belahan Timur. Demikian pula raja-raja Eropa, mengirimkan perutusannya ke Cordova, ibu kota Daulat Bani Umaiyyah (756-1031) di belahan Barat. Setiap kali perutusan itu senantiasa membawa berita tentang hal-hal yang menakjubkan, yang disaksikannya di ibu kota-ibukota dunia Islam itu.
Selain faktor politik tersebut, andil faktor ekonomi memainkan peran. Oleh karena itu para penguasa di Barat itu merasa berkepentingan pada masa-masa dami untuk mengikat persahabatan dengan pihak penguasa Islam, karena jalur perdagangan dari benua Timur, baik jalan Sutera maupun jalan laut, dikuasi oleh pemerintah Islam.
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN ORIENTALIS MUTAAKHIR

munculnya orientalis disebabkan adanya studi-studi yang dilakukan oleh ilmuan Barat tentang ketimuran baik berupa sastra, sejarah, adat-istiadat, politik, lingkungan, maupun agama di Timur Asia termasuk Islam.
Minat orang Barat untuk meneliti masalah-masalah ketimuran sudah berlangsung sejak abad pertengahan. Mereka malahirkan sejumlah karya-karya yang menyangkut masalah ketimuran. Dalam rentang waktu antara abad pertengahan sampai abad ini, secara garis besar orientalisme dapat dibagi tiga periode, yaitu (1) masa sebelum meletusnya perang salib di saat umat Islam berada dalam zaman keemasannya (2) masa perang salib sampai masa pencerahan di Eropa; dan (3) Munculnya Masa muta`akhir ( abad modern). Sebelum menjelaskan mengenai perkembangan orientalis pada abad muta`akhir berikut ini diantara beberapa masa perkembangan orientalisme.

A.  Masa Sebelum Meletusnya Perang Salib Atau Masa Keemasan Dunia Islam
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada abad pertengahan pandangan orang Eropa tentang Islam berasal dari gagasan kitab suci dan teologis. Oleh karena itu, mitologis, teologis dan misionerlah yang berperan memberikan rumusan untuk mengembangkan wacana resmi mengenai Islam bagi kaum gereja. Secara mitologis, kaum muslim dipahami sebagai kaum Arab (saracen) keturunan Ibrahim (Abraham) melalui budaknya, Hajar (Hagar) dan putera mereka, Ismail (Ishmael). [1]
Pada zaman keemasan dunia Islam, negeri-negeri Islam, khususnya Baghdad dan Andalusia (Spanyol) menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahun. Bangsa-bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia meggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi dan adat istiadat Arab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menuntut ilmu di perguran-perguruan Tinggi Arab. Sejarah mencatat bahwa di antara raja-raja Spanyol yang non muslim ada yang hanya mengenal huruf Arab (misalnya, Peter I (w. 1140, raja Aragon). Raja Alfonso IV mencetak uang dengan huruf Arab. Hal ini sama dengan di Sicilia, Raja Normandia, Ronger I menjadikan istananya sebagai tempat para filosof, dokter-dokter, dan ahli Islam lainnya dalam berbagai ilmu pengetahuan. Keadaan ini berlanjut sampai Ronger II. Dimana pakaian kebesarannya digunakan pakaian Arab, bahkan gerejanya dihiasi dengan ukiran Arab. Wanita kristen Sicilia meniru wanita Islam dalam berbusana.
Peradaban Islam itu bukan hanya berpengaruh bagi bangsa Eropa yang berada di bawah atau bekas kekuasaan Islam, tetapi juga bagi orang Eropa di luar daerah itu. Penuntut ilmu dari Perancis, Inggris, Jerman dan Italiah datang belajar ke perguruan Tinggi dan Universitas yang ada di Andalusia dan Sicilia. Di antara mereka itu adalah pemuka-pemuka Kristen, misalnya Gerbert d'Aurillac yang belajar di Andalusia dan Adelard dari Bath (1107-1135) yang belajar di Andalusia dan Sicilia. Gerbert d'Aurillac kemudian menjadi Paus di Roma dari tahun 999-1003 dengan nama Sylverster II. Adapun Adelard setelah kembali ke Inggris ia diangkat menjadi guru pangeran Henry yang kelak menjadi raja. Ia menjadi salah satu penerjemah buku-buku arab ke dalam bahasa latin.[2]
Dalam suasana inilah muncul orientalisme di kalangan Barat. Bahasa Arab mulai dipandang sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam bidang ilmiah dan filsafat. Pelajaran Bahasa Arab dimasukkan ke dalam kurikulum di berbagai pergurun Tinggi Eropa, seperti di Bologona (Italia) pada tahun 1076, Chartres (Prancis) tahun 1117, Oxford (Inggris) tahun 1167, dan Paris tahun 1170. muncullah penerjemah generasi pertama, Constantinus Africanus (w. 1087) dan Gerard Cremonia (w. 1187).
Tujuan orientalisme pada masa ini adalah memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat dari dunia Islam ke Eropa. Tujuan ini meningkatkan minat mereka dalam mempelajari bahasa Arab di Universitas-universitas. Di Italia pelajaran Bahasa Arab diadakan di Roma (1303), Florencia (1321), Padua (1361) dan Gregoria (1553); di Perancis pada tahun 1217, montipellier 1221, Bordeaux 1441; di Inggris dilaksanakan di Cambrige tahun 1209, sedangkan di bagian Eropa dimulai pada abad ke 15.

B.  Masa Perang Salib sampai Masa Pencerahan di Eropa
Perang salib antara umat Islam Timur dan Kristen Barat yang menghabiskan tenggang waktu antara tahun 1096-1291 membawa kekalahan bagi Karisten. Namun demikian bukan berarti umat Islam tidak menderita. Akibat perang salib putra-putra terbaik bangsa gugur di medan tempur. Aset-aset dan kekayaan negara berupa sarana dan prasarana pada saat itu, banyak mengalami kehancuran. Kemiskinan, dekadensi moral dan kebodohan terjadi akibat perhatian para pemimpin terpokus kepada pertahanan kekuasaan dari serangan tentara Salib. Oleh karena itu, umat Islam tidak mendapatkan keuntungan apapun dari perang salib, selain dari kehancuran. Sebaliknya, meskipun umat Kristen dinyatakan kalah, tetapi Kontak Islam-Kristen ini mempunyai sumbangsih yang sangat besar terhadap lahirnya rennaisance kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan di Eropa setelah bangsa Eropa tenggelam dalam lautan kegelapan.[3]
Pada periode awal perang salib ini, dibentuklah studi Islam untuk tujuan misi pada abad ke 12 pada masa Peter Agung (sekitar 1094-1156 M), kepala Biara Pria Cluny di Prancis yang hingga saat ini menjadi lembaga utama pengetahuan Kristen. Pada tahun 1142 Peter sebagai kepala lembaga mengadakan perjalanan ke Spanyol untuk mengunjungi biara-biara Clunic. Pada saat inilah beliau memutuskan untuk melakukan sebuah proyek besar untuk melibatkan beberapa penerjemah dan sarjana, untuk memulai studi sistematis tentang Islam. Ketika Peter memberikan otoritas untuk penerjemahan dan penafsiran teks-teks Islam yang berbahasa Arab terjadilah cerita-cerita cabul tentang Nabi Muhammad. Cerita itu melukiskan Muhammad sebagai Tuhan, pendusta, penggemar wanita, seorang kristen yang murtad, tukang sihir dan sebagainya.
Korpus (kumpulan naskah) Cluniac yang dikenal sebagai usaha Peter ini, menjadi standar pengetahuan kesarjanaan Barat tentang Islam pada saat itu (Esposito, et al, 2001:2). Banyak teks Islam yang berbahasa Arab diterjemahkan termasuk Alquran, hadis, biografi Nabi (sirah) dan teks opologetik "Opologi Alkindi" yang memuat perdebatan antara Kristen dan Muslim yang terjadi pada khalifah al-Ma'mun (813-833). Karya al-Kindi ini sangat populer di kalangan sarjana Kristen pada abad pertengahan karena memberikan model argumentasi tentang Islam. Fokus serangan-serangan ini khususnya adalah Alquran, kenabian Muhammad, dan penyebaran agama melalui penaklukan (jihad). Tiga topik ini merupakan fokus utama dalam telaah para sarjana Kristen tentang Islam pada abad pertengahan.
Dalam situasi sosial politik ini, ternyata aktivitas penerjemahan jauh lebih menarik di Eropa Kristen. Pada akhir abad ke 12 muncul sekumpulan karya peripatetik Muslim Ibn Sina (w. 1037) dan beredar di Eropa. Semakin banyaknya karya filosofis dan ilmiah diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, para sarjana Eropa akhir abad pertengahan memandang Dunia Muslim kontemporer sebagai peradaban sarajana dan filosofis, yang sangat kontras dengan popularitas pandangan menghina Muhammad dan praktek religius agama.

C.  Perkembangan Orientalis Mutaakhir
            Sejak perang dunia ke II, dan setelah perang Arab-Israel, bangsa muslim Arab telah menjadi suatu tokoh dalam budaya populer Amerika, bahkan dalam dunia akademis, dalam dunia perencanaan kebijak sanaan, dan dalam dunia usaha, perhatian yang serius diberikan kepada Arab. Hal ini melambangkan suatu perubahan besar dalam konfigurasi kekuatan-kekuatan internasional.
            Prancis dan  Inggris tidak lagi menempati panggung sentral dalam politik dunia, imperium Amerika telah menggantikan mereka. Suatu jaringan kepentingan kini menghubungkan semua bagian dari bekas dunia kolonial dahulu dengan Amerika, sebagai halnya perkembangan berbagai sub-spesialisasi telah membagi-bagi, (namun juga mengaitkan) semua disiplin filologis yang berpijak eropa dahulu, seperti orientalisme. Yang mengklaim keahlian religional, yang diabdikan kepada kepentingan pemerintahan atau bisnis atau kedua-duanya.[4]
            Suatu variasi luas diberbagai reperesentasi hibrida tentang Timur pada abad ini  membanjiri kebudayaan Jepang, Indo Cina, Cina, India, Pakistan: representasinya terus menimbulkan efek-efek yang luas, dan telah di bahas dibanyak tempat karena alasan-alasan yang jelas. Islam dan bangsa Arab juga memiliki representasi masing-masing, yang muncul secara fragmentaris namun sangat kuat dan koheren secara idiologis. Dibawah ini beberapa pengembangan orientalis masa mutaakhir diantaranya sebagai berikut:
1.      Citra Populer dan Representasi Sains Sosial
            Inilah sedikit contoh tentang bagaimana orang Arab sering di tampilkan sekarang ini. Perhatikan betapa sangat mudahnya orang Arab menerima transformasi dan reduksi yang terus-menerus dipaksakan kepadanya. Kostum untuk reoni universitas Princeton yang kesepuluh pada tahun 1967 telah direncanakan sebelum perang bulan juni antara Arab-Israel. Motif kostum tersebut adalah motif kostum Arab: jubah, igal dan sandal. Segera sesudah perang tersebut, bahwa motif Arab tersebut menjadi sesuatu yang sangat memalukan, yang kemudian diadakan perubahan dengan menggunakan kostum yang telah direncanakan semula, dengan sikap kekalahan yang hina, begitulah Arab akhirnya ditampilkan. Dari suatu stereotip yang samar-samar sebagai seorang nomad pengendara onta menjadi karikatur yang mencerminkan kalemahan dan kekalahan. Inilah satu-satunya wadah yang diberikan kepada bangsa Arab.
            Namun setelah perang 1973 bangsa Arab dimana-mana muncul sebagai sesuatu yang lebih mengancam. Jadi, jika orang Arab mendapat perhatian, maka perhatian ini sifatnya negatif, ia dianggap sebagai pengganggu Israel dan Barat, atau sebagai rintangan yang teratas bagi penciptaan negara Israel pada tahun 1948.
            Dalam film-film dan televisi orang Arab diasosiakan dengan kejalangan seksual atau kelicikan dan kekejaman. Ia ,incul sebagai laki-laki yang berselera rendah yang mampu merencanakan intrik-intrik yang culas dan pada dasarnya berwatak sadis, penghianat dan hina. Pedagang budak, penunggang unta, penukar uang, bajingan licik. Inilah peran tradisional Arab dalam film-film yang diputar di gedung-gedung bioskop. Hampir semua gambar yang disajikan menunjukkan kemarahan dan penderitaan massa, atau tingkah laku yang tidak rasional.[5]
            Buku-buku dan artikel tentang islam dan orang-orang Arab diterbitkan secara teratur, dan tidak mencerminkan perubahan sama sekali dari polemik-polemik anti islam yang sangat beracun dari abad pertengahan serta reneisans. Sungguh hanya untuk islam dan orang Arab sajalah segala sesuatu bisa ditulis atau dikatakan, tanpa perubahan atau koreksi.
            Salah satu aspek mencengangkan dari perhatian sains sosial Amerika terhadap Timur adalah penghindarannya dari kesustraan, dari tumpuk-tumpuk tulisan ahli tentang timur dekat modern tanpa menjumpai satupun rujukan kapada kesustraan. Apa yang tampaknya lebih penting bagi sang ahli wilayah adalah “fakta”, dimana sebuah karya sastra barangkali hanya sebuah gangguan. Akibat pengabaian terhadap Timur Arab dan Timut islam menjadikan mereka dikerdilkan, ringkasannya didehumanisasikan.

2.      Kebijaksanaan Hubungan Budaya
            Selama abad ke 19 Amerika serikat berkepentingan dengan Timur dalam cara-cara untuk merebut imperium dunia, dan  hingga abad keduapuluh. Presiden Amerik pada saat itu, mengusulkan agar melakukan study ketimuran untuk mengikuti teladan dari kekuatan-kekuatan imperium Eropa, ia memberi pesan bahwa kerangka kerja kajian ketimuran saat itu mapun sekarang bersifat politis bukan sekedar ilmiyah.
            Pada pertemuan tahunan pertama masyarakat ketimuran Amerika tahun 1843, president pickering memulai satu sketsa besar dilapangan yang diusulkan untuk dikembangkan dengan menghimbau perhatian kepada situasi dan kondisi saat itu yang sangat menguntungkan, perdamaian yang merata dimana-mana, jalan masuk yang lebih bebas ke daerah-daerah timur, dan kemudahan-kemudahan komunikasi yang lebih besar.
            Aspek yang tak kalah penting dalam peranan ini adalah “kebijaksanaan-kebijaksanaan hubungan budaya” sebagaimana di definisikan oleh Mortimer graves pada tahun 1950. Sebagian dari kebijaksanaan ini adalah, demikian katanya, upaya untuk memperoleh “ setiap publikasi yang penting dalam stiap bahasa Timur dekat yang diterbitkan sejak 1900, suatu upaya yang harus disadari kongres kita sebagai tolok ukur dari keamanan nasional kita, karena apa yang jelas dipertaruhkan kita, demikian argumen Graves.[6]
            Analisis Laroui juga menunjukkan bagaimana Von grunebaum menggunakan teori budayawan A.L Kroeber untuk memahami islam, dan bagaimana lat ini dengan sendirinnya berbuntut serangkaian reduksi dan eleminasi dengan mana islam dapat ditampilkan sebagai suatu sistem eklusi-eklusi yang tertutup. Dengan demikian kebudayaan islam dapat dilihat sebagai cerminan langsung dari suatu matrik yang tidak bervariasi, teori mengenai Tuhan yang khas, yang memaksa semua aspek tersebut untuk masuk ke dalam makna dan tatanan: perkembangan, sejarah, tradisi, dan realita di dalam islam oleh karenanya dapat saling pertukarkan.










BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas maka bisa disimpulkan sebagai berikut:
1.      Munculnya orientalis secara garis besar  dapat dibagi tiga periode, yaitu (1) masa sebelum meletusnya perang salib di saat umat Islam berada dalam zaman keemasannya (2) masa perang salib sampai masa pencerahan di Eropa; dan (3) Munculnya Masa muta`akhir ( abad modern).
2.      Sebab utama adanya orientalis masa mutaakhir ini mulanya Akibat kekalahan menghadapi serangan peradaban Barat, serta rekayasa orientalisme terhadap keinginan mereka untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, maka sebagian dari cendikiawan muslim berusaha memebela para orientalis umumnya dan para orientalis abad modern khususnya. Mereka berusaha menampakkan potret orientalis modern yang dianggap berbeda dengan orientalis abad pertengahan dan era kebangkitan (renaissance) yang sangat dikenal dengan kefanatikan serta gigihnya memusuhi Islam dan kaum muslimin. Orientalisme modern mengambil sikap yang sangat berbeda, yaitu sikap sebagai peneliti yang jujur dan berdasarkan kajian objektif, disamping sebagai rekan yang saling menghormati.
           






[1] Esposito, John L., The Oxford Ensyclopedia of the Modern Islamic World, diterjemahkan oleh Eva Y.N dkk dengan judul Ensilopedi Oxford Dunia Islam Modern. Jilid III, ( Bandung: Mizan, 2001) hal 1-2.
[2] Dewan Redaksi Inseklopedi Islam,  Inseklopedi Islam Jilid IV, ( Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve 1999), hal 56.

[3] Nasution, Harun,  Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran. Cet. II, ( Bandung: Mizan, 1995) hal. 305S
            [4] Edward W. Said, Orientalisme, Tejm Asep Hikmat, (Bandung: Pustaka Setia, 1985) hal.373
                [5]Ibid. 374
                [6]Ibid. 385

0 komentar:

Posting Komentar