BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana yang
telah dimaklumi bahwa hubungan atau kontak antara Timur dengan Barat telah
terjalin sejak ribuan tahun silam yang ditandai dengan perbenturan kepentingan
maupun permusuhan. Sekitar tahun 600-330 SM telah terjadi hubungan perebutan
kekuasaan antara Grik Tua dengan dinasti Achaemendis dari Imperium Parsi sejak
masa pemerintahan Cyrus the Great (550-530 SM). Akibat kepentingan ini
mendorong masing-masing pihak untuk saling mengenal dengan yang lainnya. Hubungan
antara Timur dan Barat ini meninggalkan sebuah karya yang ditulis oleh Xenophon
(431-378 SM) yang berjudul Anabasis yang mengisahkan 10.000 pasukan Grik
yang terkepung di daerah Parsi.
Selanjutnya,
ketika Yunani dan Romawi berhasil melakukan invasi ke Mesir, Aleksander
menguasi kota Aleksandria. Kota ini dibangun oleh Aleksander Agung. Di
masa ini penduduk yang ditaklukkan diwajibkan berpradaban Yunani, yang kemudian
dikenal dengan hellenisme.
Sejak
masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) yang berkedudukan
di Damaskus diinstruksikan penggantian penggunaan bahasa untuk arsip-arsip
resmi pemerintah dari bahasa setempat (Pahlevi, Kpti, Grik, Latin) ke bahasa
Arab, maka sejak itu bahasa Arab telah menjadi lingua prance dalamhubungan-hubungan
diplomatik, dagang, surat menyurat resmi, dunia kesusatraan dan kebudayaan,
dunia ilmiah dan filsafat (Sou’yb, 1990:22). Oleh karena itu sejarah mencatat
bahwa pada masa-masa damai sering terjadi perutusan diplomatik kaisar-kaisar
Bizantium ke Bangdad ibu kota Daulah Abbasiyah sekitar tahun (750-1258) di
belahan Timur. Demikian pula raja-raja Eropa, mengirimkan perutusannya ke
Cordova, ibu kota Daulat Bani Umaiyyah (756-1031) di belahan Barat. Setiap kali
perutusan itu senantiasa membawa berita tentang hal-hal yang menakjubkan, yang
disaksikannya di ibu kota-ibukota dunia Islam itu.
Selain faktor politik
tersebut, andil faktor ekonomi memainkan peran. Oleh karena itu para penguasa
di Barat itu merasa berkepentingan pada masa-masa dami untuk mengikat persahabatan
dengan pihak penguasa Islam, karena jalur perdagangan dari benua Timur, baik
jalan Sutera maupun jalan laut, dikuasi oleh pemerintah Islam.
BAB
II
SEJARAH PERKEMBANGAN ORIENTALIS
MUTAAKHIR
munculnya
orientalis disebabkan adanya studi-studi yang dilakukan oleh ilmuan Barat
tentang ketimuran baik berupa sastra, sejarah, adat-istiadat, politik,
lingkungan, maupun agama di Timur Asia termasuk Islam.
Minat
orang Barat untuk meneliti masalah-masalah ketimuran sudah berlangsung sejak
abad pertengahan. Mereka malahirkan sejumlah karya-karya yang menyangkut
masalah ketimuran. Dalam rentang waktu antara abad pertengahan sampai abad ini,
secara garis besar orientalisme dapat dibagi tiga periode, yaitu (1) masa
sebelum meletusnya perang salib di saat umat Islam berada dalam zaman
keemasannya (2) masa perang salib sampai masa pencerahan di Eropa; dan (3)
Munculnya Masa muta`akhir ( abad modern). Sebelum menjelaskan mengenai
perkembangan orientalis pada abad muta`akhir berikut ini diantara beberapa masa
perkembangan orientalisme.
A. Masa Sebelum Meletusnya Perang Salib Atau Masa Keemasan Dunia
Islam
Ada
pendapat yang mengatakan bahwa pada abad pertengahan pandangan orang Eropa
tentang Islam berasal dari gagasan kitab suci dan teologis. Oleh karena itu,
mitologis, teologis dan misionerlah yang berperan memberikan rumusan untuk
mengembangkan wacana resmi mengenai Islam bagi kaum gereja. Secara mitologis,
kaum muslim dipahami sebagai kaum Arab (saracen) keturunan Ibrahim (Abraham)
melalui budaknya, Hajar (Hagar) dan putera mereka, Ismail (Ishmael). [1]
Pada
zaman keemasan dunia Islam, negeri-negeri Islam, khususnya Baghdad dan
Andalusia (Spanyol) menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahun. Bangsa-bangsa
Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia meggunakan bahasa Arab sebagai alat
komunikasi dan adat istiadat Arab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menuntut
ilmu di perguran-perguruan Tinggi Arab. Sejarah mencatat bahwa di antara
raja-raja Spanyol yang non muslim ada yang hanya mengenal huruf Arab (misalnya,
Peter I (w. 1140, raja Aragon). Raja Alfonso IV mencetak uang dengan huruf
Arab. Hal ini sama dengan di Sicilia, Raja Normandia, Ronger I menjadikan
istananya sebagai tempat para filosof, dokter-dokter, dan ahli Islam lainnya
dalam berbagai ilmu pengetahuan. Keadaan ini berlanjut sampai Ronger II. Dimana
pakaian kebesarannya digunakan pakaian Arab, bahkan gerejanya dihiasi dengan
ukiran Arab. Wanita kristen Sicilia meniru wanita Islam dalam berbusana.
Peradaban
Islam itu bukan hanya berpengaruh bagi bangsa Eropa yang berada di bawah atau
bekas kekuasaan Islam, tetapi juga bagi orang Eropa di luar daerah itu.
Penuntut ilmu dari Perancis, Inggris, Jerman dan Italiah datang belajar ke
perguruan Tinggi dan Universitas yang ada di Andalusia dan Sicilia. Di antara
mereka itu adalah pemuka-pemuka Kristen, misalnya Gerbert d'Aurillac yang
belajar di Andalusia dan Adelard dari Bath (1107-1135) yang belajar di
Andalusia dan Sicilia. Gerbert d'Aurillac kemudian menjadi Paus di Roma dari
tahun 999-1003 dengan nama Sylverster II. Adapun Adelard setelah kembali ke
Inggris ia diangkat menjadi guru pangeran Henry yang kelak menjadi raja. Ia
menjadi salah satu penerjemah buku-buku arab ke dalam bahasa latin.[2]
Dalam
suasana inilah muncul orientalisme di kalangan Barat. Bahasa Arab mulai dipandang
sebagai bahasa yang harus dipelajari dalam bidang ilmiah dan filsafat.
Pelajaran Bahasa Arab dimasukkan ke dalam kurikulum di berbagai pergurun Tinggi
Eropa, seperti di Bologona (Italia) pada tahun 1076, Chartres (Prancis) tahun
1117, Oxford (Inggris) tahun 1167, dan Paris tahun 1170. muncullah penerjemah
generasi pertama, Constantinus Africanus (w. 1087) dan Gerard Cremonia (w.
1187).
Tujuan
orientalisme pada masa ini adalah memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat
dari dunia Islam ke Eropa. Tujuan ini meningkatkan minat mereka dalam
mempelajari bahasa Arab di Universitas-universitas. Di Italia pelajaran Bahasa
Arab diadakan di Roma (1303), Florencia (1321), Padua (1361) dan Gregoria
(1553); di Perancis pada tahun 1217, montipellier 1221, Bordeaux 1441; di
Inggris dilaksanakan di Cambrige tahun 1209, sedangkan di bagian Eropa dimulai
pada abad ke 15.
B. Masa Perang Salib sampai Masa Pencerahan di Eropa
Perang
salib antara umat Islam Timur dan Kristen Barat yang menghabiskan tenggang
waktu antara tahun 1096-1291 membawa kekalahan bagi Karisten. Namun demikian
bukan berarti umat Islam tidak menderita. Akibat perang salib putra-putra
terbaik bangsa gugur di medan tempur. Aset-aset dan kekayaan negara berupa
sarana dan prasarana pada saat itu, banyak mengalami kehancuran. Kemiskinan,
dekadensi moral dan kebodohan terjadi akibat perhatian para pemimpin terpokus
kepada pertahanan kekuasaan dari serangan tentara Salib. Oleh karena itu, umat
Islam tidak mendapatkan keuntungan apapun dari perang salib, selain dari
kehancuran. Sebaliknya, meskipun umat Kristen dinyatakan kalah, tetapi Kontak
Islam-Kristen ini mempunyai sumbangsih yang sangat besar terhadap lahirnya rennaisance
kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan di Eropa setelah bangsa Eropa
tenggelam dalam lautan kegelapan.[3]
Pada
periode awal perang salib ini, dibentuklah studi Islam untuk tujuan misi pada
abad ke 12 pada masa Peter Agung (sekitar 1094-1156 M), kepala Biara Pria Cluny
di Prancis yang hingga saat ini menjadi lembaga utama pengetahuan Kristen. Pada
tahun 1142 Peter sebagai kepala lembaga mengadakan perjalanan ke Spanyol untuk
mengunjungi biara-biara Clunic. Pada saat inilah beliau memutuskan untuk
melakukan sebuah proyek besar untuk melibatkan beberapa penerjemah dan sarjana,
untuk memulai studi sistematis tentang Islam. Ketika Peter memberikan otoritas
untuk penerjemahan dan penafsiran teks-teks Islam yang berbahasa Arab
terjadilah cerita-cerita cabul tentang Nabi Muhammad. Cerita itu melukiskan
Muhammad sebagai Tuhan, pendusta, penggemar wanita, seorang kristen yang
murtad, tukang sihir dan sebagainya.
Korpus
(kumpulan naskah) Cluniac yang dikenal sebagai usaha Peter ini, menjadi
standar pengetahuan kesarjanaan Barat tentang Islam pada saat itu (Esposito, et
al, 2001:2). Banyak teks Islam yang berbahasa Arab diterjemahkan termasuk
Alquran, hadis, biografi Nabi (sirah) dan teks opologetik "Opologi
Alkindi" yang memuat perdebatan antara Kristen dan Muslim yang terjadi
pada khalifah al-Ma'mun (813-833). Karya al-Kindi ini sangat populer di kalangan
sarjana Kristen pada abad pertengahan karena memberikan model argumentasi
tentang Islam. Fokus serangan-serangan ini khususnya adalah Alquran, kenabian
Muhammad, dan penyebaran agama melalui penaklukan (jihad). Tiga topik ini
merupakan fokus utama dalam telaah para sarjana Kristen tentang Islam pada abad
pertengahan.
Dalam situasi
sosial politik ini, ternyata aktivitas penerjemahan jauh lebih menarik di Eropa
Kristen. Pada akhir abad ke 12 muncul sekumpulan karya peripatetik Muslim Ibn
Sina (w. 1037) dan beredar di Eropa. Semakin banyaknya karya filosofis dan
ilmiah diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, para sarjana Eropa akhir
abad pertengahan memandang Dunia Muslim kontemporer sebagai peradaban sarajana
dan filosofis, yang sangat kontras dengan popularitas pandangan menghina Muhammad
dan praktek religius agama.
C. Perkembangan Orientalis Mutaakhir
Sejak
perang dunia ke II, dan setelah perang Arab-Israel, bangsa muslim Arab telah
menjadi suatu tokoh dalam budaya populer Amerika, bahkan dalam dunia akademis,
dalam dunia perencanaan kebijak sanaan, dan dalam dunia usaha, perhatian yang
serius diberikan kepada Arab. Hal ini melambangkan suatu perubahan besar dalam
konfigurasi kekuatan-kekuatan internasional.
Prancis dan Inggris tidak lagi menempati panggung sentral
dalam politik dunia, imperium Amerika telah menggantikan mereka. Suatu jaringan
kepentingan kini menghubungkan semua bagian dari bekas dunia kolonial dahulu
dengan Amerika, sebagai halnya perkembangan berbagai sub-spesialisasi telah membagi-bagi,
(namun juga mengaitkan) semua disiplin filologis yang berpijak eropa dahulu,
seperti orientalisme. Yang mengklaim keahlian religional, yang diabdikan kepada
kepentingan pemerintahan atau bisnis atau kedua-duanya.[4]
Suatu variasi luas diberbagai
reperesentasi hibrida tentang Timur pada abad ini membanjiri kebudayaan Jepang, Indo Cina,
Cina, India, Pakistan: representasinya terus menimbulkan efek-efek yang luas,
dan telah di bahas dibanyak tempat karena alasan-alasan yang jelas. Islam dan
bangsa Arab juga memiliki representasi masing-masing, yang muncul secara
fragmentaris namun sangat kuat dan koheren secara idiologis. Dibawah ini
beberapa pengembangan orientalis masa mutaakhir diantaranya sebagai berikut:
1. Citra Populer dan Representasi Sains Sosial
Inilah
sedikit contoh tentang bagaimana orang Arab sering di tampilkan sekarang ini.
Perhatikan betapa sangat mudahnya orang Arab menerima transformasi dan reduksi
yang terus-menerus dipaksakan kepadanya. Kostum untuk reoni universitas
Princeton yang kesepuluh pada tahun 1967 telah direncanakan sebelum perang
bulan juni antara Arab-Israel. Motif kostum tersebut adalah motif kostum Arab:
jubah, igal dan sandal. Segera sesudah perang tersebut, bahwa motif Arab
tersebut menjadi sesuatu yang sangat memalukan, yang kemudian diadakan
perubahan dengan menggunakan kostum yang telah direncanakan semula, dengan
sikap kekalahan yang hina, begitulah Arab akhirnya ditampilkan. Dari suatu
stereotip yang samar-samar sebagai seorang nomad pengendara onta menjadi karikatur
yang mencerminkan kalemahan dan kekalahan. Inilah satu-satunya wadah yang
diberikan kepada bangsa Arab.
Namun
setelah perang 1973 bangsa Arab dimana-mana muncul sebagai sesuatu yang lebih
mengancam. Jadi, jika orang Arab mendapat perhatian, maka perhatian ini
sifatnya negatif, ia dianggap sebagai pengganggu Israel dan Barat, atau sebagai
rintangan yang teratas bagi penciptaan negara Israel pada tahun 1948.
Dalam
film-film dan televisi orang Arab diasosiakan dengan kejalangan seksual atau
kelicikan dan kekejaman. Ia ,incul sebagai laki-laki yang berselera rendah yang
mampu merencanakan intrik-intrik yang culas dan pada dasarnya berwatak sadis,
penghianat dan hina. Pedagang budak, penunggang unta, penukar uang, bajingan
licik. Inilah peran tradisional Arab dalam film-film yang diputar di
gedung-gedung bioskop. Hampir semua gambar yang disajikan menunjukkan kemarahan
dan penderitaan massa, atau tingkah laku yang tidak rasional.[5]
Buku-buku
dan artikel tentang islam dan orang-orang Arab diterbitkan secara teratur, dan
tidak mencerminkan perubahan sama sekali dari polemik-polemik anti islam yang
sangat beracun dari abad pertengahan serta reneisans. Sungguh hanya untuk islam
dan orang Arab sajalah segala sesuatu bisa ditulis atau dikatakan, tanpa
perubahan atau koreksi.
Salah
satu aspek mencengangkan dari perhatian sains sosial Amerika terhadap Timur
adalah penghindarannya dari kesustraan, dari tumpuk-tumpuk tulisan ahli tentang
timur dekat modern tanpa menjumpai satupun rujukan kapada kesustraan. Apa yang
tampaknya lebih penting bagi sang ahli wilayah adalah “fakta”, dimana sebuah
karya sastra barangkali hanya sebuah gangguan. Akibat pengabaian terhadap Timur
Arab dan Timut islam menjadikan mereka dikerdilkan, ringkasannya
didehumanisasikan.
2. Kebijaksanaan Hubungan Budaya
Selama
abad ke 19 Amerika serikat berkepentingan dengan Timur dalam cara-cara untuk
merebut imperium dunia, dan hingga abad
keduapuluh. Presiden Amerik pada saat itu, mengusulkan agar melakukan study
ketimuran untuk mengikuti teladan dari kekuatan-kekuatan imperium Eropa, ia
memberi pesan bahwa kerangka kerja kajian ketimuran saat itu mapun sekarang
bersifat politis bukan sekedar ilmiyah.
Pada
pertemuan tahunan pertama masyarakat ketimuran Amerika tahun 1843, president
pickering memulai satu sketsa besar dilapangan yang diusulkan untuk
dikembangkan dengan menghimbau perhatian kepada situasi dan kondisi saat itu
yang sangat menguntungkan, perdamaian yang merata dimana-mana, jalan masuk yang
lebih bebas ke daerah-daerah timur, dan kemudahan-kemudahan komunikasi yang
lebih besar.
Aspek
yang tak kalah penting dalam peranan ini adalah “kebijaksanaan-kebijaksanaan
hubungan budaya” sebagaimana di definisikan oleh Mortimer graves pada tahun
1950. Sebagian dari kebijaksanaan ini adalah, demikian katanya, upaya untuk
memperoleh “ setiap publikasi yang penting dalam stiap bahasa Timur dekat yang
diterbitkan sejak 1900, suatu upaya yang harus disadari kongres kita sebagai
tolok ukur dari keamanan nasional kita, karena apa yang jelas dipertaruhkan
kita, demikian argumen Graves.[6]
Analisis Laroui juga menunjukkan
bagaimana Von grunebaum menggunakan teori budayawan A.L Kroeber untuk memahami
islam, dan bagaimana lat ini dengan sendirinnya berbuntut serangkaian reduksi
dan eleminasi dengan mana islam dapat ditampilkan sebagai suatu sistem
eklusi-eklusi yang tertutup. Dengan demikian kebudayaan islam dapat dilihat
sebagai cerminan langsung dari suatu matrik yang tidak bervariasi, teori
mengenai Tuhan yang khas, yang memaksa semua aspek tersebut untuk masuk ke dalam
makna dan tatanan: perkembangan, sejarah, tradisi, dan realita di dalam islam
oleh karenanya dapat saling pertukarkan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa
penjelasan di atas maka bisa disimpulkan sebagai berikut:
1. Munculnya
orientalis secara
garis besar dapat dibagi tiga periode,
yaitu (1) masa sebelum meletusnya perang salib di saat umat Islam berada dalam
zaman keemasannya (2) masa perang salib sampai masa pencerahan di Eropa; dan
(3) Munculnya Masa muta`akhir ( abad modern).
2. Sebab
utama adanya orientalis masa mutaakhir ini mulanya Akibat kekalahan menghadapi
serangan peradaban Barat, serta rekayasa orientalisme terhadap keinginan mereka
untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, maka sebagian dari cendikiawan
muslim berusaha memebela para orientalis umumnya dan para orientalis abad
modern khususnya. Mereka berusaha menampakkan potret orientalis modern yang
dianggap berbeda dengan orientalis abad pertengahan dan era kebangkitan (renaissance)
yang sangat dikenal dengan kefanatikan serta gigihnya memusuhi Islam dan kaum
muslimin. Orientalisme modern mengambil sikap yang sangat berbeda, yaitu sikap
sebagai peneliti yang jujur dan berdasarkan kajian objektif, disamping sebagai
rekan yang saling menghormati.
[1] Esposito, John L., The Oxford Ensyclopedia of the Modern Islamic
World, diterjemahkan oleh Eva Y.N dkk dengan judul Ensilopedi Oxford
Dunia Islam Modern. Jilid III, ( Bandung: Mizan, 2001) hal 1-2.
[2] Dewan Redaksi Inseklopedi Islam,
Inseklopedi Islam Jilid IV, ( Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve
1999), hal 56.
[3] Nasution, Harun, Islam
Rasional; Gagasan dan Pemikiran. Cet. II, ( Bandung: Mizan, 1995) hal. 305S

0 komentar:
Posting Komentar