BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam perkembangannya, filsafat empirisme
berkembang menjadi beberapa pandangan yang berbeda, yaitu positivisme,
materialisme dan pragmatisme. Materialisme dan positivisme merupakan bentuk
yeng paling ekstrim, karena filsafat hanya memikirkan yang realita saja.
Pelopor filsafat positivisme ialah Augus Comte, yang dalam pemikiranya,
terutama dalam masalah-masalah kemasyarakatan banyak di pengaruhi oleh saint
Simon.
Di katakan positivisme karena mereka
beranggapan bahwa yang dapat kita selidiki, dapat kita pelajari hanyalah yang
berdasarkan fakta-fakta, yang berdasarkan data yang nyata, yaitu yang mereka
namakan positif. Apa yang kita ketahui itu hanyalah yang nampak saja, di luar
itu kita tidak perlu mengetahuinya dan tidak perlu untuk di ketahui. Positivisme
membatasi penyelidikannya hanya kepada bidang gejala-gejala saja.
Positivisme sebagai filsafat yang mengemukan
pandangannya bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasarkan hukum-hukum yang
dapat di buktikan dengan observasi, eksperimen, dan verifikasi. Dalam
masyarakat ia mengemukan bahwa nilai-nilai politik suatu masyarakat dapat di jelaskan secara
ilmiyah dengan mengemukakan, hukum perubahan histories atas dasar induksi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari positivisme itu?
2.
Bagaimana sejarah munculnya positivisme?
3.
Siapa saja tokoh-tokoh pelopor positivisme?
C.
Tujuan
Berpijak pada rumusan masalah sebelumnya maka,
tujuan masalah dapat di rumuskan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian-pengertian positifisme
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah munculnya
positivisme
3. Untuk mengetahui beberapa tokoh pelopor
positivisme
BAB II
POSITIVISME
A.
Pengertian Positivisme
Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif di sini sama
artinya dengan faktual yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut
positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Dengan
demikian, maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang
pengetahuan. Maka filsafat pun harus meneladani contoh itu oleh karena itu
pulalah positivisme menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat”
benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya” bagi positivisme tidaklah mempunyai
arti apa-apa. Ilmu pengetahuan termasuk juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta
dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.[1]
Tugas khusus filsafat ialah
mengkordinasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang beraneka ragam coraknya. Tentu
saja, maksud positivism berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh
empirisme. Positivism pun mengutamakan pengalaman. Hanya saja, berbeda dengan
empirisme inggris yang menerima pengalaman batiniyah atau subjektif sebagai
sumber pengetahuan. Positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui
pengalaman batiniyah tersebut ia hanyalah mengandalkan fakta-fakta belaka.[2]
B.
Sejarah Positivisme
Paham ini muncul di Perancis yang dipelopori oleh Auguste Comte
(1798-1857). Menurutnya untuk menciptakan masyarakat baru yang serba teratur,
maka perlu adanya perbaikan jiwa atau budi terlebih dahulu. Menurut Comte
pemikiran atau jiwa atau hubugan manusia berkembang dalam tiga tahap zaman:[3]
1.
Zaman Teologis
Pada zaman teologis manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala
alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak
gejala-gejala tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memilik
rasio sdan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada
pada tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk insani biasa. Zaman
teologis ini sendiri dapat dibagi lagi menjadi tiga periode. Ketiga periode
tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Animisme. Tahap animism ini merupakan tahpan paling primitive
karena benda-benda sendiri dianggapnya mempunyai jiwa.
b.
Politeisme. Tahap politeisme ini merupakan perkembangan dari tahap
pertama, di mana pada tahap ini manusia percaya pada Dewa yang masing-masing
menguasai suatu lapanga tertentu; dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar dan
sebagainya.
c.
Monoteisme. Tahap monoteisme ini lebih tinggi dari dua tahap
sebelumya, karena pada tahap ini manusia hanya memandang satu Tuhan sebagi
penuasa.
2.
Zaman Metafisis
Pada zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti debgan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip yang abstrak seperti misalnya “kodrat” dan “penyebab”.
Metafisika pada zaman ini dijunjung tinggi.
3.
Zaman Positif
Zaman ini dianggap Comte zaman tertinggi dari kehidupan manusia.
Alasannya ialah karena pada zaman ini tidak lagi ada usaha manusia untuk
mencari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Manusia kini
telah membatasi diri dalam penyelidikannya pada fakta-fakta yang disajikan
kepadanya. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionya, manusia
berusaha menetapkan relasi-relasi atau hubungan-hubungan persamaan dan urutan
yang terdapat antara fakta-fakta. Pada zaman terakhir inilah dihasilkan ilmu
pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Hukum tiga zaman ini tidak saja berlaku pada manusia sebagai anak
manusia berada pada zaman teologis, pada masa remaja ia masuk zaman metafisis
dan pada masa dewasa ia memasuki zaman positif. Demikian pula ilmu pengetahuan
berkembang mengikuti tiga zaman tersebut yang akhirnya mencapai puncak
kematangannya pada zaman positif.[4]
Masa sekarang ini (masa Comte) haruslah
mengabdikan ilmu yang disebutnya positif. Disamping Matematika, fisika dan
biologi dalam ilmu kemasyarakatan punsemangat positif ini harus di masukkan.
Apa-apa yang tidak positif itu akan dapat kita alami dan dalam pada itu baiklah
orang mengatakan, bahwa ia tidak tahu saja.
Dengan demikian pada prinsipnya zaman positif
adalah zaman ketika orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai
pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis, maupun
pengenalan metafisis. Ia tidak mau lagi melacak asal atau tujuan terakhir
seluruh alam semesta ini, atau melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu
yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang berusaha menemukan
hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah
dikenal atau yang di sajikan kepadanya yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai
akalnya. Pada zaman ini pengertian “menerangkan” berarti fakta-fakta yang
khusus di hubungkan dengan suatu fakta yang umum. Tujuan tertinggi dari zaman
ini akan tercapai, bila mana segala gejala telah dapat di susun dan di atur di
bawah satu fakta yang umum saja (umpamanya: gaya berat).[5]
Seperti yang telah dikemukakan di atas, hukum
dalam 3 zaman atau 3 tahap ini bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani
seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri.
Umpamanya: sebagai kanak-kanak orang adalah seorang teolog, sebagai pemuda ia
menjadi seorang metefikus dan sebagai orang dewasa ia adalah seorang fisikus.
Di samping itu hukum ada 3 zaman juga berlaku
di bidang ilmu pengetahuan sendiri. Segala ilmu pengetahuan semula di kuasai
oleh pengertian-pengertian teologis, sesudah itu di keruhkan oleh pemikiran
metafisis, dan akhirnya tiba di zaman hukum-hukum positif yang cerah.
Mengenai ilmu pengetahuan di ajarkan
demikkian, bahwa pengeturan ilmu pengetahuan yang berarti harus di sesuaikan
dengan pembagian kawasan gejala-gejala atau penampakan-penampakan yang di
pelajari ilmu itu.
Paham
ini tidak hanya besar pengeruhnya di bidang filsafat, akan tetapi juga besar
pengaruhnya di bidang ilmu-ilmu yang lain. Dalam hal ini terbukti Comte menjadi
besar pengeruhnya dalam sosiologi. Pengaruh positivisme tampak pula dalam ilmu
jiwa, logika, sejarah, dan kesusilaan.[6]
Dalam ilmu-ilmu lain seperti ilmu jiwa,
sejarah politik dan kesusasteraan positivisme ini di jadikan dasar juga,
lebih-lebih oleh H. TAINE (1828-1893) dalam sosiologi yang mendasarkan asasnya
atas positifisme ialah EMILE DURKHEIM (1858-1917). Di Inggris pun positifisme
ini banyak pengenutnya. Yang terutama di antaranya JONH STUART MILL
(1806-1873). Sistem ini di pergunakannya untuk segala ilmu, baik untuk logika
serta ilmu jiwa, maupun kesusilaan.[7]
C. Tokoh- Tokoh
Positivisme
1)
August Comte (1798- 1857)
August Comte adalah pelopor dari pikiran
positifisme, dan ia juga sebagai “bapak sosiologi”, karena ialah yang
pertama-tama memberi nama sosiologi, yang kita kenal dewasa ini. Dalam
pengetahuan ia berpandangan bahwa “ the higest form of knowledge is simple
description presumebly of sensory phenomena “. Comte membatasi pengetahuan
kepada bidang gejala-gejala saja. Apa yang kita ketahuai secara positif adalah
gejala yang nampak, dan semua gejala.[8]
Pandangan di atas di dasarkan atas hukum
evolosi sejarah manusia, bahwa sejarah manusia menurut Comte mengalami tiga
tingkat yaitu:
a. Tingkat teologis
b. Tingkatan metafisik, dan
c. Tingkatan positif.
Menurut Comte sejarah manusia berkembang
secara evolusi dari tingkatan yang pertama yang disebut tingkatan teologis,
yang dikuasai oleh tahayul dan prasangka, meningkat ke tingkatan ke dua yang di
sebut tingkatan metafisik, yang sebetulnya masih abstrak, dan tingkatan ke tiga
ialah yang di sebut tingkatan positif, yaitu tingkatan ilmu pengetahuan (science),
dimana pandangan dogmatik di ganti oleh pengetahuan faktual. Pada periode
terakhir ini manusia membatasi dan mendasarkan pengetahuannya kepada apa yang
dapat di lihat, yang dapat di ukur, dan dapat di buktikan.
Zaman positif adalah zaman dimana orang tahu,
bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengetahuannya yang mutlak, baik
pengenalan teologis, maupun pengenalan metafisik. Ia tidak lagi melacak asal
dan tujuan akhir seluruh alam semesta, atau melacak segala sesuatu, atau
melacak segala sesuatu yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang
berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada
fakta-fakta yang telah di kenal atau yang telah di sajikan kepadanya, yaitu
dengan pengamatan dan dengan memakai akalnya.
Sosiologi menurut Comte merupakan puncak dari
ilmu pengetahuan. Naun sosiologi akan berkembang kalau ilmu-ilmu yang
mendahuluinya telah mencapai kedewasaannya. Comte sependapat dengan Descretes
dan Newton, dimana ilmu pasti dijadikan sebagai dasar filsafat, karena ilmu
pasti memiliki dalil-dalil yang bersifat umum, paling sederhana. Sehingga ilmu
pasti merupakan ilmu yang paling bebas. Psikologi tidak mendapat tempat pada
Comte, karena manusia tidak mungkin dapat menyelidiki dirinya sendiri.
Urutan ilmu dari yang paling dasar sampai
kepada yang paling tinggi menurut Comte ialah ilmu pasti, astronomi, fisika,
biologi, dan sosiologi. Astronomi dan fisika mempelajari gejala-gejala
anorganis, sedangkan biologi dan sosiologi mempelajari gejala-gejala organis.
Sesuai dengan pendiriannya bahwa segala gejala organis dapat dipelajari kalau
gejala anorganis telah secara tuntas di kenal. Oleh karena itu astronomi dan
fisika mendahului biologi dan sosiologi. Sosiologi sebagai puncaknya karena
mempelajari proses gejala sosial yang paling kompleks.[9]
2). John Stuart Mill (1806- 1837)
August Comte memberikan suatu landasan
sosiologis, sedangkan Mill memberikan landasan psikologis terhadap filsafat
positivisme. Oleh karena itu Mill berpandangan bahwa psikologi merupakan
pengetahuan dasar bagi filsafat.
Seperti halnya dengan kaum positif, Mill
mengakui bahwa satu-satunya yang menjadi sumber pengetahuan ialah pengelaman,
karena itu induksi merupakan metode yang paling di percaya dalam ilmu
pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan menjadi:
a. Ilmu pengetahuan rohani
b. Ilmu pengetahuan alam.
Yang termasuk ilmu pengetahuan rohani ialah;
psikologi, etika, dan sosiologi. Yang termasuk ilmu pengetahuan alam ialah;
fisika, biologi, astronomi, dan sejarah.[10]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif di sini sama
artinya dengan faktual yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut
positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Dengan
demikian, maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan.
Maka filsafat pun harus meneladani contoh itu oleh karena itu pulalah
positivisme menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat”
benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya” bagi positivisme tidaklah mempunyai
arti apa-apa. Ilmu pengetahuan termasuk juga filsafat hanya menyelidiki
fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.
Paham ini muncul di Perancis yang dipelopori oleh Auguste Comte
(1798-1857). Menurutnya untuk menciptakan masyarakat baru yang serba teratur,
maka perlu adanya perbaikan jiwa atau budi terlebih dahulu. Menurut Comte
pemikiran atau jiwa atau hubugan manusia berkembang dalam tiga tahap zaman: zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman
positif.
#Semoga bermanfaat
[1]Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika (Bandung:
Yayasan Piara, 1997), 89.
[5]Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar (
Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 333.
[7]Poedjawiyatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat (Jakarta:
Rineka Cipta, 1994) 121.
[9]Ibid.

0 komentar:
Posting Komentar