KISAH
KAUM NABI LUTH
A.
Kisah Kaum Luth as Dalam Surat al Qamar Ayat 33-40 Berikut Ayat
Dan
Terjemahannya
Surat al Qamar ayat
33-40 merupakan surat yang tergolong surat-surat makkiyah dalam ayat ini
menceritakan tentang kaumnya nabi Luth yang terkenal dengan kaum sodomi
(homoseks) yang kemudian mendapat azab dari Allah atas perbuatan mereka.
كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِإِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ
حَاصِبًا إِلا آلَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ
نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا كَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَوَلَقَدْ
أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ
وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ
فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِوَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ
مُسْتَقِرٌّفَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِوَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ
فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Artinya:
Kaum Lut pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada
mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga
Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat
dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami,
maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah
membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata
mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada
esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan
ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
B.
Penafsiran kisah di Kaum Luth dalam surat al Qamar ayat 33-40
1. Penafsiran Menurut Quraish Shihab Dalam Tafsir al
Misbah
Ayat 33-36
Setelah
menjelaskan kisah kaum Shalih dan bencana yang menimpa mereka, kini ayat di
atas menguraikan kisah kaum nabi Luth as. Anda dapat untuk menghubungkannya,
bahwa ajakan yang lalu agar memperhatikan Alquran dan mendapat pelajaran
darinya, tidak digubris oleh kaum musyrikin makkah, maka kini di uraikan lagi
kisah nabi Luth as, semoga dengan demikian mereka akan memperhatikan. Allah
berfirman: telah mendustakan pula kaum Luth peringatan-peringatan.
Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa
batu-batu dan jatuh menimpah mereka kecuali keluarga Luth yakni
mereka yang beriman kepadanya.mereka kami selamatkan di waktu sahur yakni
sebelum terbitnya fajar sebagai nikmat dari sisi kami. demikianlah
kami senantiasa memeberi balasan kepada yang bersyukur.[1]
Jangan duga
siksaan yang di jatuhkan, tanpa peringatan dan nasihat sebelumnya. Tidak! Kami
telah mengancam mereka dan kami bersumpah bahwa sesunggguhnya dia yakin
nabi Luth as. Telah memperingatkan mereka tentang siksa pedih kami, lalu
mereka secara bersungguh-sungguh meragukan dan membantah serta
mengingkari peringatan-peringatan itu.
Kata “hashiban”
adalah angin yang membawa “hashba’” yakni batu-batu yang terdapat di
bumi, menerbangkannya ke atas lalu menjatuhkannya kepada para pendurhaka itu.
Ayat 37-39
Ayat-ayat
di atas menggambarkan sekelumit dari kedurhakaan dan pembangkangan kaum Luth
yang di singgung oleh ayat yang lalu. Allah berfirman: dan kami
bersumpah bahwa sesungguhnya mereka telah membujuknya menyangkut yakni
agar menyerahkan tamunya untuk mereka sodomi, maka kami butakan mata
mereka, maka rasakanlah betapa pedihnya siksaku dan bukti kebenaran peringatan-peringatanku.
Dan sesungguhnya pada esok harinya di pagi hari mereka di timpa siksa
yang mantap dan bersinambung hingga semuanya binasa. Maka
rasakanlah betapa pedihnya siksaku dan bukti kebenaran peringatan-peringatanku.
Ayat ke 40
Untuk
kali ketiga ayat ini di ulangi pada surah ini guna mengingatkan para pembaca
dan pendengarnya betapa besarnikmat Allah yang telah menurukan Alquran dan
menyempaikan kisah para pembangkang agar menjadi pelajaran bagi yang hendak
menarik pelajaran. Allah berfirman: dan sesungguhnya kami bersumpah
bahwa kami telah mempermudah alquran untuk menjadi pelajaran, maka adakah
yang ingin bersungguh-sungguh mengambil pelajaran sehingga Allah
melimpahkan karunia dan membantunya memahami kitab suci itu?[2]
2. Penafsiran Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi Dalam Tafsir al
Maraghi
Allah swt.
Berfirman mengisahkan kaum Luth yang telah mendustakannya sebagai Rasul Allah
kepada mereka, melanggar perintahnya dan menolak seruan-seruannya, terutama
mengenai homoseks yang sudah memasyarakat di kalangan mereka dan merupakan
maksiat yang mereka gemari, agar mereka meninggalkan adat dan kebiasaan yang
kejiitu, dan kembali ke jalan yang benar yang di gariskan oleh syariat islam,
namun mereka abaikan seruan-seruan luth itu dan tidak pula memerdulikan
ancaman-ancaman yang disampaikan oleh Luth kepada mereka jika mereka tidak
menghentikan kebiasaan yang keji itu, bahkan mereka telah membujuk Luth untuk
menyerahkan tamu-tamu lelakinya kepada mereka untuk memenuhi nafsu homoseks
mereka, tetapi Allah telah membutakan mata mereka seketika waktu mereka datang
menyerbu ke rumah Luth untuk maksud jahat tersebut. Tamu-tamu Luth itu
sebenarnya malaikat-malaikat yang di utus oleh Allah untuk memeberitahukan agar
nabi Luth meninggalkan kota Sadum yang segera akan menerima azab dan siksa
Allah sebagai pembalasan terhadap kaum Luth yang kafir dan fasik.
Malaikat-malaikat itu datang dengan menyemar sebagai pemuda-pemuda remaja yang
tampan sehingga menggiurkan kaum Luth yang gemar melakukan homoseks
itu.demikianlah setelah nabi Luth pada keesokan harinya meninggalkan kota Sadum
bersama keluarganya, Allah menghembuskan di atas kaum Luth angin yang kencang
disertai hujan batu sijjil yang menghancurkan kota Sadum beserta para
penghuninya.[3]
3.
Penafsiran
Menurut Sayyid Qutbh
Kisah kaum Luth
di sajikan secara rinci dalam beberapa surah. Tujuan penyajiannya di sini juga
untuk menerangkannya, tetapi dilihat dari sudut akibat pendustan mereka berupa
azab yang pedih lagi keras. Karena itu, kisah dimulai dengan menceritakan
pendustaan mereka akan aneka ancaman,
“kaum Luth pun
telahmendustakan ancaman-ancaman (Nabinya).” (al Qamar: 33).
Setelah mengisyaratkan ini
diterangkanlah nestapa yang ditimpakan atas mereka,
“Sesungguhnya
Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang
menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum
fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur”.(al Qamar: 34-35).
Al –hashib berarti angin yang membawa bebatuan. Pada surah lain diterangkan
bahwa Allah mengirimkan kepada mereka angin yang membawa batu yang terbuat dari
tanah. Kata al hashib mengandung nuansa dentingan batu yang menunjukkan
kekerasan dan kekuatan selaras dengan atmosfer pemandangan. Tiada yang selamat
kecuali keluarga Luth (tapi tanpa istrinya) sebagai nikmat dari sisi Allah
sebagai balasan atas keimanan dan kesyukuran mereka. “demikianlah kami
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. maka kami
menyelamatkannya dan memeberinya nikmat di tengah-tengah kebinasaan dan
ketekutan yang menimpa orang lain.[4]
Kini, kisah itu
disajikan dari dua sisi hukuman yang keras, yang berimplikasi pada kerincian
penjelasan tentang apa yang menimpa mereka dilihat dari kedua sisi tersebut.
Inilah salah satu metode yang digunakan Alquran dalam menyejikan kisah guna
menonjolkan nuansa-nuansa tertentu melalui penyejian semacam ini. Berikut ini
adalah rincian kisah,
“Dan sesungguhnya dia (Lut) telah
memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan
ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar
menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka
rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya
mereka ditimpa azab yang kekal.”(al Qamar:
36-38).
Sudah sekian lama Luth
memperingatkan kaumnya akan akibat kemungkaran yang ganjil, yang mereka
lakukan. Mereka malah mendebat ancaman itu, meragukannya, dan menyengsikannya.
Mereka silih berganti antara meragukan dan menyengsikan ancaman. Mereka
mendebat nabinya ihwal ancaman itu dan puncak dari perbuatan itu ialah
kecabulan dan dekadensi moral. Mereka membujuk Luth sendiri agar menyerahkan
tamunya, yaitu malaikat, yang mereka duga sebagai anak-anak muda tampan.
Bergejolaklah naluri mereka yang menyimpang, kotor, dan menjijikkan. Mereka
merayu Luth agar dapat berbuat ingkar atas tamu-tamunya agar merasa bersalah
dan malu, tanpa canggung untuk memerkosa kehormatan nabinya yang telah mewanti-wanti
dan mengencam mereka akan akibat dari penyimpangan seksual yang kotor itu.
Pada saat itulah
“tangan” kekuasaan campur tangan. Bergeraklah malaikat untuk menunaikan
tugasnya dan kedatangan mereka juga untuk tugas itu, “...lalu kami butakan
mata mereka,” sehingga mata mereka tidak dapat melihat apa dan siapapun.
Mereka tidak lagi mampu membujuk Luth dan menehan tamunya. Pengungkapan butanya
mata mereka tiada yang sejelas pada bagian ini. Pada surah lain dikatakan “mereka
(tamu) berkata, hai Luth kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka (kaum Luth)
tak kan dapat menyentuhmu.” Pada surat ini dijelaskan alasan mengapa mereka
tidak dapat menyentuhnya, yaitu buta matanya.
Tatkalah kisah dituturkan
secara negatif, tiba-tiba beralih ke bentuk dialog dan sapaan pun ditunjukkan
kepada kaumnya yang di azab, “... maka rasakanlah azabku dan
ancaman-ancamanku...” inilah azab yang dahulu aku ancamkan kepadamu. Inilah
azab yang dahulu aku peringatkan kepadamu, tetapi kamu meragukannya.
Kebutaan mata mereka
terjadi pada malam hari saat menenti datangnya pagi yang ditetapkan Allah
sebagai saat untuk menyiksa mereka semuanya. “sesungguhnya pada esok harinya
mereka ditimpa azab yang kekal.” (al Qamar:38).
Itulah azab yang di
turunkan lebih dahulu dalam redaksi ayat, yaitu angin berbatu yang membersihkan
bumi dari kotoran dan kerusakan tersebut. Sekali lagi, gaya penyajian di ubah,
yaitu pemandangan di hadirkan seolah-olah momen yang realistis. Tatkala kaum
Luth menerima azab, mereka di seru,
“maka rasakanlah
azabku dan ancaman-ancamanku.” (al Qamar: 39)
Kemudian di sajikan
catatan akhir yang familiar setelah menyuguhkan pemandangan yang keras, “sesungguhnya
telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengembil
pelajaran?” (al Qamar: 40).[5]
C. Analisis Pengembangan Kisah Kaum Nabi
Luth di Atas
Di
dalam Alquran kisah kaum nabi Luth di terangkan sebanyak tiga kali yang pertama
terdapat pada surat al A`raf ayat 80-84, yang kedua pada surat Hud ayat 77-83,
dan yang ketiga terdapat pada surat di atas yaitu surat al Qamar ayat 33-40, ke
tiga mufassir di atas sama-sama menafsirkan kisah ini sesuai dengan konteks
ayat tersebut, mereka hanya menjelaskan yang tersurat saja, tanpa memunculkan
pesan dibalik adanya kisah tersebut.
Dari
analisis yang saya lakukan mengenai kisah kaum nabi Luth, terdapat tiga bentuk
kejadian yaitu; perbuatan sodomi, azab Tuhan, dan ancaman (peringatan Luth
terhadap kaumnya):
1.
Perbuatan
sodomi(homoseks).
sebenarnya kata sodomi itu adalah nama wilayah
kaum Luth pada saat itu, yang kemudian orang
barat menyebutnya sodomi karena awal mula munculnya perbuatan itu berasal dari
tempat itu.
Perbuatan
homoseks yang dilakukan oleh kaum Luth kemungkinan di sebabkan oleh:
a.
Adanya
rasa bosan bagi kaum lelaki ketika melihat perempuan, di karnakan terlalu seringnya
ia melihat tubuh wanita yang terlihat terbuka tanpa tertutup auratnya, sehingga
membuat kaum lelaki tak bernafsu lagi saat melihat perempuan hingga akhirnya
mereka mencari sesuatu hal yang baru dengan cara melakukan sodomi (homoseks).
b.
Kemungkinan
yang kedua ialah terlalu tertutupnya perempuan yang hanya menampakkan mata dan
telapak tangannya saja, sehingga membuat kaum lelaki tidak bernafsu lagi saat
melihatnya.
2.
Mengenai
azab Allah yang ditimpakan kepada kaum Luth. Pada ayat di atas, azab yang ditimpakan
pada kaum Luth berupa dibutakan matanya serta berupa hembusan angin kencang
dengan membawa batu, yang kemudian azab itu ditimpakan pada keesokan harinya.
Jika dilihat dari segi Ilmu Alam, peristiwa itu adalah suatu peristiwa badai
angin topan yang sangat kencang, karna saking kencangnya batupun terbawa
olehnya, dan peristiwa itu disebabkan oleh adanya cuaca yang buruk dan juga
disebabkan karena banyaknya kerusakan alam.
3.
yang
ketiga berkenaan tentang “ancaman”, menurut analisis saya, ancaman ini berupa
sebuah teguran atau peringatan nabi Luth terhadap kaumya yang kemudian tak
dihiraukan oleh kaumnya, ancaman yang disampaikan nabi Luth ini disebabkan
kaumnya yang selalu sering melakukan perusakan pada alam yang hingga akhirnya
bencana menimpa mereka.

0 komentar:
Posting Komentar