Selasa, 22 April 2014

kisah kaum nabi Luth dalam surat al-Qamar ayat 33-40



KISAH KAUM NABI LUTH

A.      Kisah Kaum Luth as Dalam Surat al Qamar Ayat 33-40 Berikut Ayat Dan
Terjemahannya

Surat al Qamar ayat 33-40 merupakan surat yang tergolong surat-surat makkiyah dalam ayat ini menceritakan tentang kaumnya nabi Luth yang terkenal dengan kaum sodomi (homoseks) yang kemudian mendapat azab dari Allah atas perbuatan mereka.

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِإِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلا آلَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ
نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا كَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَوَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ
وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِوَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّفَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِوَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Artinya:
Kaum Lut pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya).  Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

B.       Penafsiran kisah di Kaum Luth dalam surat al Qamar ayat 33-40

1.    Penafsiran Menurut Quraish Shihab Dalam Tafsir al Misbah

Ayat 33-36
Setelah menjelaskan kisah kaum Shalih dan bencana yang menimpa mereka, kini ayat di atas menguraikan kisah kaum nabi Luth as. Anda dapat untuk menghubungkannya, bahwa ajakan yang lalu agar memperhatikan Alquran dan mendapat pelajaran darinya, tidak digubris oleh kaum musyrikin makkah, maka kini di uraikan lagi kisah nabi Luth as, semoga dengan demikian mereka akan memperhatikan. Allah berfirman: telah mendustakan pula kaum Luth peringatan-peringatan. Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu dan jatuh menimpah mereka kecuali keluarga Luth yakni mereka yang beriman kepadanya.mereka kami selamatkan di waktu sahur yakni sebelum terbitnya fajar sebagai nikmat dari sisi kami. demikianlah kami senantiasa memeberi balasan kepada yang bersyukur.[1]
Jangan duga siksaan yang di jatuhkan, tanpa peringatan dan nasihat sebelumnya. Tidak! Kami telah mengancam mereka dan kami bersumpah bahwa sesunggguhnya dia yakin nabi Luth as. Telah memperingatkan mereka tentang siksa pedih kami, lalu mereka secara bersungguh-sungguh meragukan dan membantah serta mengingkari peringatan-peringatan itu.
Kata “hashiban” adalah angin yang membawa “hashba’” yakni batu-batu yang terdapat di bumi, menerbangkannya ke atas lalu menjatuhkannya kepada para pendurhaka itu.

Ayat 37-39
            Ayat-ayat di atas menggambarkan sekelumit dari kedurhakaan dan pembangkangan kaum Luth yang di singgung oleh ayat yang lalu. Allah berfirman: dan kami bersumpah bahwa sesungguhnya mereka telah membujuknya menyangkut yakni agar menyerahkan tamunya untuk mereka sodomi, maka kami butakan mata mereka, maka rasakanlah betapa pedihnya siksaku dan bukti kebenaran peringatan-peringatanku. Dan sesungguhnya pada esok harinya di pagi hari mereka di timpa siksa yang mantap dan bersinambung hingga semuanya binasa. Maka rasakanlah betapa pedihnya siksaku dan bukti kebenaran peringatan-peringatanku.

Ayat ke 40
            Untuk kali ketiga ayat ini di ulangi pada surah ini guna mengingatkan para pembaca dan pendengarnya betapa besarnikmat Allah yang telah menurukan Alquran dan menyempaikan kisah para pembangkang agar menjadi pelajaran bagi yang hendak menarik pelajaran. Allah berfirman: dan sesungguhnya kami bersumpah bahwa kami telah mempermudah alquran untuk menjadi pelajaran, maka adakah yang ingin bersungguh-sungguh mengambil pelajaran sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantunya memahami kitab suci itu?[2]

2.    Penafsiran Menurut  Ahmad Musthafa Al Maraghi Dalam Tafsir al Maraghi
Allah swt. Berfirman mengisahkan kaum Luth yang telah mendustakannya sebagai Rasul Allah kepada mereka, melanggar perintahnya dan menolak seruan-seruannya, terutama mengenai homoseks yang sudah memasyarakat di kalangan mereka dan merupakan maksiat yang mereka gemari, agar mereka meninggalkan adat dan kebiasaan yang kejiitu, dan kembali ke jalan yang benar yang di gariskan oleh syariat islam, namun mereka abaikan seruan-seruan luth itu dan tidak pula memerdulikan ancaman-ancaman yang disampaikan oleh Luth kepada mereka jika mereka tidak menghentikan kebiasaan yang keji itu, bahkan mereka telah membujuk Luth untuk menyerahkan tamu-tamu lelakinya kepada mereka untuk memenuhi nafsu homoseks mereka, tetapi Allah telah membutakan mata mereka seketika waktu mereka datang menyerbu ke rumah Luth untuk maksud jahat tersebut. Tamu-tamu Luth itu sebenarnya malaikat-malaikat yang di utus oleh Allah untuk memeberitahukan agar nabi Luth meninggalkan kota Sadum yang segera akan menerima azab dan siksa Allah sebagai pembalasan terhadap kaum Luth yang kafir dan fasik. Malaikat-malaikat itu datang dengan menyemar sebagai pemuda-pemuda remaja yang tampan sehingga menggiurkan kaum Luth yang gemar melakukan homoseks itu.demikianlah setelah nabi Luth pada keesokan harinya meninggalkan kota Sadum bersama keluarganya, Allah menghembuskan di atas kaum Luth angin yang kencang disertai hujan batu sijjil yang menghancurkan kota Sadum beserta para penghuninya.[3]  

3.      Penafsiran Menurut Sayyid Qutbh
Kisah kaum Luth di sajikan secara rinci dalam beberapa surah. Tujuan penyajiannya di sini juga untuk menerangkannya, tetapi dilihat dari sudut akibat pendustan mereka berupa azab yang pedih lagi keras. Karena itu, kisah dimulai dengan menceritakan pendustaan mereka akan aneka ancaman,
“kaum Luth pun telahmendustakan ancaman-ancaman (Nabinya).” (al Qamar: 33).
Setelah mengisyaratkan ini diterangkanlah nestapa yang ditimpakan atas mereka,
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(al Qamar: 34-35).
Al –hashib berarti angin yang membawa bebatuan. Pada surah lain diterangkan bahwa Allah mengirimkan kepada mereka angin yang membawa batu yang terbuat dari tanah. Kata al hashib mengandung nuansa dentingan batu yang menunjukkan kekerasan dan kekuatan selaras dengan atmosfer pemandangan. Tiada yang selamat kecuali keluarga Luth (tapi tanpa istrinya) sebagai nikmat dari sisi Allah sebagai balasan atas keimanan dan kesyukuran mereka. “demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. maka kami menyelamatkannya dan memeberinya nikmat di tengah-tengah kebinasaan dan ketekutan yang menimpa orang lain.[4]
Kini, kisah itu disajikan dari dua sisi hukuman yang keras, yang berimplikasi pada kerincian penjelasan tentang apa yang menimpa mereka dilihat dari kedua sisi tersebut. Inilah salah satu metode yang digunakan Alquran dalam menyejikan kisah guna menonjolkan nuansa-nuansa tertentu melalui penyejian semacam ini. Berikut ini adalah rincian kisah,
“Dan sesungguhnya dia (Lut) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.”(al Qamar: 36-38).
Sudah sekian lama Luth memperingatkan kaumnya akan akibat kemungkaran yang ganjil, yang mereka lakukan. Mereka malah mendebat ancaman itu, meragukannya, dan menyengsikannya. Mereka silih berganti antara meragukan dan menyengsikan ancaman. Mereka mendebat nabinya ihwal ancaman itu dan puncak dari perbuatan itu ialah kecabulan dan dekadensi moral. Mereka membujuk Luth sendiri agar menyerahkan tamunya, yaitu malaikat, yang mereka duga sebagai anak-anak muda tampan. Bergejolaklah naluri mereka yang menyimpang, kotor, dan menjijikkan. Mereka merayu Luth agar dapat berbuat ingkar atas tamu-tamunya agar merasa bersalah dan malu, tanpa canggung untuk memerkosa kehormatan nabinya yang telah mewanti-wanti dan mengencam mereka akan akibat dari penyimpangan seksual yang kotor itu.
Pada saat itulah “tangan” kekuasaan campur tangan. Bergeraklah malaikat untuk menunaikan tugasnya dan kedatangan mereka juga untuk tugas itu, “...lalu kami butakan mata mereka,” sehingga mata mereka tidak dapat melihat apa dan siapapun. Mereka tidak lagi mampu membujuk Luth dan menehan tamunya. Pengungkapan butanya mata mereka tiada yang sejelas pada bagian ini. Pada surah lain dikatakan “mereka (tamu) berkata, hai Luth kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka (kaum Luth) tak kan dapat menyentuhmu.” Pada surat ini dijelaskan alasan mengapa mereka tidak dapat menyentuhnya, yaitu buta matanya.
Tatkalah kisah dituturkan secara negatif, tiba-tiba beralih ke bentuk dialog dan sapaan pun ditunjukkan kepada kaumnya yang di azab, “... maka rasakanlah azabku dan ancaman-ancamanku...” inilah azab yang dahulu aku ancamkan kepadamu. Inilah azab yang dahulu aku peringatkan kepadamu, tetapi kamu meragukannya.
Kebutaan mata mereka terjadi pada malam hari saat menenti datangnya pagi yang ditetapkan Allah sebagai saat untuk menyiksa mereka semuanya. “sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (al Qamar:38).
Itulah azab yang di turunkan lebih dahulu dalam redaksi ayat, yaitu angin berbatu yang membersihkan bumi dari kotoran dan kerusakan tersebut. Sekali lagi, gaya penyajian di ubah, yaitu pemandangan di hadirkan seolah-olah momen yang realistis. Tatkala kaum Luth menerima azab, mereka di seru,
maka rasakanlah azabku dan ancaman-ancamanku.” (al Qamar: 39)
Kemudian di sajikan catatan akhir yang familiar setelah menyuguhkan pemandangan yang keras, “sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengembil pelajaran?” (al Qamar: 40).[5]

C.      Analisis Pengembangan Kisah Kaum Nabi Luth di Atas
Di dalam Alquran kisah kaum nabi Luth di terangkan sebanyak tiga kali yang pertama terdapat pada surat al A`raf ayat 80-84, yang kedua pada surat Hud ayat 77-83, dan yang ketiga terdapat pada surat di atas yaitu surat al Qamar ayat 33-40, ke tiga mufassir di atas sama-sama menafsirkan kisah ini sesuai dengan konteks ayat tersebut, mereka hanya menjelaskan yang tersurat saja, tanpa memunculkan pesan dibalik adanya kisah tersebut.
Dari analisis yang saya lakukan mengenai kisah kaum nabi Luth, terdapat tiga bentuk kejadian yaitu; perbuatan sodomi, azab Tuhan, dan ancaman (peringatan Luth terhadap kaumnya):
1.      Perbuatan sodomi(homoseks).
 sebenarnya kata sodomi itu adalah nama wilayah kaum Luth pada saat itu, yang kemudian  orang barat menyebutnya sodomi karena awal mula munculnya perbuatan itu berasal dari tempat itu.
Perbuatan homoseks yang dilakukan oleh kaum Luth kemungkinan di sebabkan oleh:
a.       Adanya rasa bosan bagi kaum lelaki ketika melihat perempuan, di karnakan terlalu seringnya ia melihat tubuh wanita yang terlihat terbuka tanpa tertutup auratnya, sehingga membuat kaum lelaki tak bernafsu lagi saat melihat perempuan hingga akhirnya mereka mencari sesuatu hal yang baru dengan cara melakukan sodomi (homoseks).
b.      Kemungkinan yang kedua ialah terlalu tertutupnya perempuan yang hanya menampakkan mata dan telapak tangannya saja, sehingga membuat kaum lelaki tidak bernafsu lagi saat melihatnya.
2.      Mengenai azab Allah yang ditimpakan kepada kaum Luth. Pada ayat di atas, azab yang ditimpakan pada kaum Luth berupa dibutakan matanya serta berupa hembusan angin kencang dengan membawa batu, yang kemudian azab itu ditimpakan pada keesokan harinya. Jika dilihat dari segi Ilmu Alam, peristiwa itu adalah suatu peristiwa badai angin topan yang sangat kencang, karna saking kencangnya batupun terbawa olehnya, dan peristiwa itu disebabkan oleh adanya cuaca yang buruk dan juga disebabkan karena banyaknya kerusakan alam.
3.      yang ketiga berkenaan tentang “ancaman”, menurut analisis saya, ancaman ini berupa sebuah teguran atau peringatan nabi Luth terhadap kaumya yang kemudian tak dihiraukan oleh kaumnya, ancaman yang disampaikan nabi Luth ini disebabkan kaumnya yang selalu sering melakukan perusakan pada alam yang hingga akhirnya bencana menimpa mereka.




[1]M, Quraisyh Syihab, Tafsir Al Misbah, (jakarta: Lentera Hati, 2002), hl. 471
[2]Ibid. 472
[3] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, Terj. Hery Nooer Aly (Semarang: Toha Putra, 1989) hal 386
[4] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran (Jakarta: Gema Insani, 2004) hal 106
[5]Ibid. 106

0 komentar:

Posting Komentar