Selasa, 22 April 2014

makalah tafsir surat al-fatihah ibnu kasir dan shafwa al-tafasir



TAFSIR SURAT AL FATIHAH AYAT 5, 6, DAN 7
            Surat al-Fatihah adalah surat yang diturunkan di Makkah, yang terdiri dari 7 ayat, 29 kalimat, 131 huruf. Ada juga yang mengatakan surat al-Fatihah terdiri atas 7 ayat, 25 kalimat, dan 125 huruf. Surat ini dinakamakn dengan surat al-Fatihah disebabkan karena menjadi pembukaan pertama dalam Alquran dan juga menjadi permulaan bacaan dalam shalat. Selain itu juga di sebut ummul Quran, Ummul Kitab, as-Sabul Mastani, Alquranul Adhim.[1]
A.           Ayat Dan Terjemahan
إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين  إهدنا الصّراط المستقيم  صراط الّذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضّالين

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

B.            Biografi singkat Syaikh Muhammad Ali Ash Shabuni
       Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Jamil Ash Shabuni. Beliau lahir di kota Halb/Aleppo Syiria pada tahun 1928 M. Setelah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Syiria, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Mesir, dan merampungkan program magisternya di universitas Al Azhar mengambil tesis khusus tentang perundang-undangan dalam Islam pada tahun 1954 M. Saat ini bermukim di Mekkah dan tercatat sebagai salah seorang staf pengajar tafsir dan ulumul Qur’an di fakultas Syari’ah dan Dirasat Islamiyah Universitas Malik Abdul Aziz Makkah.
       Syaikh Ash Shabuni dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpelajar. Ayahnya, Syaikh Jamil, merupakan salah seorang ulama senior di Aleppo. Ia memperoleh pendidikan dasar dan formal mengenai bahasa Arab, ilmu waris, dan ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan langsung sang ayah. Sejak usia kanak-kanak, ia sudah memperlihatkan bakat dan kecerdasan dalam menyerap berbagai ilmu agama. Di usianya yang masih belia, Ash Shabuni sudah hafal Al Quran.Tak heran bila kemampuannya ini membuat banyak ulama di tempatnya belajar sangat menyukai kepribadian Ash Shabuni. Salah satu gurunya adalah sang ayah, Jamil Ash Shabuni. Ia juga berguru pada ulama terkemuka di Aleppo, seperti Syaikh Muhammad Najib Sirajuddin, Syaikh Ahmad Al Shama, Syaikh Muhammad Said Al Idlibi, Syaikh Muhammad Raghib Al Tabbakh, dan Syaikh Muhammad Najib Khayatah.
       Untuk menambah pengetahuannya, Ash Shabuni juga kerap mengikuti kajian-kajian para ulama lainnya yang biasa diselenggarakan di berbagai masjid.Setelah menamatkan pendidikan dasar, Ash Shabuni melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah milik pemerintah, Madrasah Al Tijariyyah. Di sini, ia hanya mengenyam pendidikan selama satu tahun. Kemudian, ia meneruskan pendidikan di sekolah khusus syariah, Khasrawiyya, yang berada di Aleppo. Saat bersekolah di Khasrawiyya, ia tidak hanya mempelajari bidang ilmu-ilmu Islam, tetapi juga mata pelajaran umum. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Khasrawiyya dan lulus tahun 1949.Atas beasiswa dari Departemen Wakaf Suriah, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Mesir, hingga selesai strata satu dari Fakultas Syariah pada tahun 1952. Dua tahun berikutnya, di universitas yang sama, ia memperoleh gelar magister pada konsentrasi peradilan Syariah (Qudha Asy Syariyyah). Studinya di Mesir merupakan beasiswa dari Departemen Wakaf Suria.
       Selepas dari Mesir, Syaikh Ash Shabuni kembali ke kota kelahirannya. Ia mengajar di berbagai sekolah menengah atas yang ada di Aleppo. Pekerjaan sebagai guru sekolah menengah atas ini ia lakoni selama delapan tahun, dari tahun 1955 hingga 1962.Setelah itu, ia mendapatkan tawaran untuk mengajar di Fakultas Syariah Universitas Umm Al Qura dan Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz. Kedua universitas ini berada di Kota Makkah. Ia menghabiskan waktu dengan kesibukannya mengajar di dua perguruan tinggi ini selama 28 tahun.Karena prestasi akademik dan kemampuannya dalam menulis, saat menjadi dosen di Universitas Umm Al Qura, Ash Shabuni pernah menyandang jabatan ketua Fakultas Syariah. Ia juga dipercaya untuk mengepalai Pusat Kajian Akademik dan Pelestarian Warisan Islam. Hingga kini, ia tercatat sebagai guru besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz.
       Di samping mengajar di kedua universitas itu, Syaikh Ash Shabuni juga kerap memberikan kuliah terbuka bagi masyarakat umum yang bertempat di Masjidil Haram. Kuliah umum serupa mengenai tafsir juga digelar di salah satu masjid di Kota Jeddah. Kegiatan ini berlangsung selama sekitar delapan tahun.Setiap materi yang disampaikannya dalam kuliah umum ini, oleh Ash Shabuni, direkam-nya dalam kaset. Bahkan, tidak sedikit dari hasil rekaman tersebut yang kemudian ditayangkan dalam program khusus di televisi. Proses rekaman yang berisi kuliah-kuliah umum Syaikh Ash Shabuni ini berhasil diselesaikan pada tahun 1998.
       Di samping sibuk mengajar, Syaikh Ash Shabuni juga aktif dalam organisasi Liga Muslim Dunia. Saat di Liga Muslim Dunia, ia menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al Quran dan sunnah. Ia bergabung dalam organisasi ini selama beberapa tahun. Setelah itu, ia mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk menulis dan melakukan penelitian.
       Salah satu karyanya yang terkenal adalah Shafwah At Tafasir. Kitab tafsir Al Quran ini merupakan salah satu tafsir terbaik karena luasnya pengetahuan yang dimiliki oleh sang pengarang. Selain dikenal sebagai hafiz Al Quran, Syaikh Ash Shabuni juga memahami dasar-dasar ilmu tafsir, guru besar ilmu syariah, dan ketokohannya sebagai seorang intelektual Muslim. Hal ini menambah bobot kualitas dari tafsirnya ini.
       Menurut penilaian Syaikh Abdullah Khayyat, khatib Masjidil Haram dan penasehat kementrian pengajaran Arab Saudi, Syaikh Ash Shabuni adalah seorang ulama yang memiliki banyak pengetahuan, salah satu cirinya adalah aktivitasnya yang mencolok dalam bidang ilmu dan pengetahuan, Ia banyak menggunakan kesempatan berlomba dengan waktu untuk menelurkan karya ilmiahnya yang bermanfaat dengan member konteks pencerahan, yang merupakan buah penelaahan, pembahasan dan penelitian yang cukup lama.
       Dalam menuangkan pemikirannya, Syaikh Ash Shabuni tidak tergesa-gesa, dan tidak berorientasi mengejar banyak karya tulis, namun menekankan segi ilmiah ke dalam pemahaman serta aspek-aspek kualitas dari sebuah karya ilmiah, untuk mendekati kesempurnaan dan segi kebenaran.
C.           Penafsiran Ayat Ali Ash Shabuni Dalam Shafwah Al Tafasir
1.    Mufradat
 المستقيم :  tidak bengkok (lurus)
أمين      : kalimat doa dan tidak termasuk ayat Alquran.
2.    Tafsir Ayat
إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين
Hanya kepadamu ya Allah kami merendahkan diri, tunduk, patuh, khusu’ dan tenang. Kami hanya menyembahmu ya Tuhanku aku mohon pertolongan untuk senantiasa bisa taat dan mendapatkan ridhamu. Engkau adlah Dzat yang berhak mendapat segala keagungan dan ta’dzim. Dan tak ada seorangpun yang selain engkau yang mampu memberikan pertolongan kepada kami.
  إهدنا الصّراط المستقيم 
Bimbinglah kami dan tuntunlah kami ke jalanmu, jalan yang benar dan jalan yang lurus, dan tetapkanlah kami untuk selalu berpegang teguh kepada islam, agama yang ajarannya di bawah oleh para Nabi dan Raul yang kemudian diteruskan oleh penutup para Rasul (Muhammad SAW).jadikanlah kami sebagai orang yang meniti jalan hamba-hamba yang dekat dengan-Mu.
  صراط الّذين أنعمت عليهم
Jalan orang-orang yang telah kau utamakan dengan kehidupan yang menyenangkan, yang telah kau penuhi dengan kenikmatan seperti jalan para nabi, Shiddiqin (orang-orang jujur), orang-orang yang mati syahid, orang-orang shaleh dan mereka itulah teman yang sebaik- sebaiknya.
غير المغضوب عليهم ولا الضّالين
Dan janganlah engkau jadikan kami termasuk kelompok orang-orang yang bingung dan tersesat dari jalan yang lurus, orang-orang yang menyimpang dari syariat-Mu yang suci, dari jalan lurus-Mu, orang-orang yang menentangmu dan memusuhimu seperti orang Yahudi dan Nasrani, yang telah sesat dan menyekutukanmu, sehingga mereka mendapatkan laknat dan murka, sampai hari pembalasan, Allahumma Amin.[2]
3.    Balaghah
إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين
Ini mengandung unsur “iltifat” (peralihan) dari kata ganti orang ketiga (ghaibah) kepada kata ganti orang kedua (khitab), untuk menjadikan kalimat agar bervariasi dan beraneka ragam, dan aslinya adalah إيّا ه نعبد di dahulukan objek penderita (maful) atas kata kerja (fiil), dan kalimat ini mengandung faedah membatasi (qashar) dan menghususkan (tahsis) seperti yang terdapat dalam firman وإيّاي فارهبون  . dalam bahrul muhid unsur fashahah dan balaghah yang terkandung dalam surat ini antara lain sebagai berikut:
a)      Baiknya pembukaan dan indahnya permulaan
b)      Kesempurnaan dalam memuji karena adanya huruf alif lam yang berfaedah “istighraq” (mencakup keseluruhan jenis pujian)
c)      Bervariasinya seruan pada firman-Nya, karena bentuknya “kalam khabar” tetapi maknanya perintah yakni “ucapkanlah segala puji bagi Allah”
d)     Adanya takhsis pada kata “Allah”
e)      Adanya pembuangan kata (hazf) seperti membuang kata “shirath” dalam firman-Nya غير المغضوب عليهم ولا الضّالين  sedang perkiraannya ialah
 غير صراط المغضوب عليهم وغير صراط ولا الضّالين
f)       Adanya unsur takdim dan takkhir dalam إيّا ك نعبد
g)      Adanya penjelasan setelah di samarkannya kata الصّراط المستقيم yang kemudian dijelaskan dengan  صراط الّذين أنعمت عليهم
h)      Adanya unsur “iltifat” (peralihan) dalam إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين
i)        Adanya permohonan, namun yang diharapkan bukan sekedar keberhasilan memperoleh apa yang diminta, akan tetapi kelangsungan dan kelanggengannya, seperti terdapat dalam firman  إهدنا الصّراط المستقيم  tetapkanlah kamiselalu berda dalm jalan yang lurus
j)        Adanya unsur sajak seirama yakni keselarasan dua kata, seperti dalam firman-Nya الرحمن الرحيم   صراط المستقيم  dan  الضّالين  نستعين

D.           Biografi Singkat Ibnu Katsir
       Nama lengkap Ibnu Katsir ialah, Abul Fidâ ‘Imaduddin Isma’il bin Syeh Abi Haffsh Syihabuddin Umar bin Katsir bin Dla`i ibn Katsir bin Zarâ` al-Qursyi al-Damsyiqi. Ia di lahirkan di kampung Mijdal, daerah Bashrah sebelah timur kota Damaskus, pada tahun 700 H. Ayahnya berasal dari Bashrah, sementara ibunya berasal dari Mijdal. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Hafsh Umar ibn Katsir. Ia adalah ulama yang faqih serta berpengaruh di daerahnya. Ia juga terkenal dengan ahli ceramah. Hal ini sebagaimana di ungkapkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya (al-Bidâyah wa al-Nihâyah). Ayahnya lahir sekitar tahun 640 H, dan ia wafat pada bulan Jumadil ‘Ula 703 H. di daerah Mijdal, ketika Ibnu Katsir berusia tiga tahun, dan dikuburkan di sana.
       Ibnu Katsir mulai sedari kecil mencari ilmu. Semenjak ayahnya wafat kala itu Ibnu Katsir baru berumur tiga tahun, selanjutnya kakaknya bernama Abdul Wahab yang mendidik dan mengayomi Ibnu Katsir kecil. Ketika genap usia sebelas tahun, Ia selesai menghafalkan al-Qur`an.
       Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus. Ia belajar kepada dua Grand Syaikh Damaskus, yaitu Syaikh Burhanuddin Ibrahim Abdurrahman al-Fazzari (w. 729) terkenal dengan ibnu al-Farkah,  tentang fiqh syafi’i. lalu belajar ilmu ushul fiqh ibn Hâjib kepada syaikh Kamaluddin bin Qodi Syuhbah. Lalu ia berguru kepada; Isa bin Muth’im, syeh Ahmad bin Abi Thalib al-Muammari (w. 730), Ibnu Asakir (w. 723), Ibn Syayrazi, Syaikh Syamsuddin al-Dzhabi (w. 748), Syaikh Abu Musa al-Qurafi, Abu al-Fatah al-Dabusi, Syaikh Ishaq bin al-Amadi (w. 725), Syaikh Muhamad bin Zurad. Ia juga sempat ber-mulajamah kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mazi (w. 742), sampai ia mendapatkan pendamping hidupnya. Ia menikah dengan salah seorang putri Syaikh al-Mazi. Syeh al-Mazi, adalah yang mengarang kitab “Tahdzîbu al-kamâl” dan “Athrâf-u al-kutub-i al-sittah“.
       Begitu pula, Ibnu Katsir berguru Shahih Muslim kepada Syaikh Nazmuddin bin al-Asqalani. Selain guru-guru yang telah dipaparkan di atas, masih ada beberapa guru yang mempunyai pengaruh besar terhadap Ibnu Katsir; mereka adalah Ibnu Taymiyyah. Banyak sekali sikap Ibnu Katsir yang terwarnai dengan Ibnu Taymiyah, baik itu dalam berfatwa, cara berpikir juga dalam metode karya-karyanya. Dan hanya sedikit sekali fatwa beliau yang berbeda dengan Ibnu Taymiyyah.
       Sementara murid-murid beliaupun tidak sedikit, diantaranya Syihabuddin bin haji. Pengakuan yang jujur lahir dari muridnya, “Ibnu Katsir adalah ulama yang mengetahui matan hadits, serta takhrij rijalnya. Ia mengetahui yang shahih dan dha’if”. Guru-guru maupun sahabat beliau mengetahui, bahwa ia bukan saja ulama dalam bidang tafsir, juga hadits dan sejarah. Sejarawan sekaliber al-Dzahabi, tidak ketinggalan memberikan sanjungan kepada Ibnu Katsir, “Ibnu Katsir adalah seorang mufti, muhaddits, juga ulama yang faqih dan kapabel dalam tafsir”.
       Genap usia tujuh puluh empat tahun akhirnya ulama ini wafat, tepatnya pada hari Kamis, 26 Sya’ban 774 H. Ia di kuburkan di pemakaman shufiyah Damaskus, disisi makam guru yang sangat dicintai dan dihormatinya yaitu Ibnu Taimiyah.
E.            Penafsiran Ibnu Kasir Dalam Tafsiranya
إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين
Hanya kepadaengkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan.

            Ibadah berarti menaati dengan perasaan rendah diri, mengapdi, hamba yang patuh dengan tuduk. Sedangkan menurut istilah syara’ ibadah merupakan suatu sikap yang menghimpun rasa kecintaan, ketundukan, dan takut.
            Dalam kalimat ini sengaja di dahulukan mafulnya yakni iyyaka dan di ulang untuk menunjukkan makna perhatian dan pembatasan, sehingga bermakna “kami tidak menyembah kecuali hanya kepadamu, tidak berserah diri kecuali bersamamu”.
            Pengertian ini merupakan kesempurnaan dari ketaatan. Sikap beragama secara keseluruhan berpangkal dari makan kedua kalimat ini, sehingga ulama-ulama terdahulu mengatakan, bahwa rahasia Alquran  ada di dalam surat Alfatihah dan rahasia surat Alfatihah ada dalam kedua kalimat  ini. Sebab, kalimat yang pertama menunjukkan makana bebas dari syrik, sedangkan yang kedua menunjukkan bebas dari daya dan kekuatan serta menyerah bulat-bulat kepada Allah.
            Menurut Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas, bahwa makna إيّا ك نعبد ialah “engkau yang kami esakan hanya kepada engkaulah kami takut dan berharap, wahai Tuhan kami , bukan kepada selain engkau”. Sedangkan makna إيّا ك نستعين ialah “ dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan untuk taat kepada-Mu dalam semua urusan kami”.
            Qatadah mengatakan bahwa makna إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين ialah “Allah memerintahkan kepada kalian untuk ihlas dalam beribadah kepada Allah dan benar-benar memohon pertolongan kapada-Nya dalam semua urusan kalian”.
إهدنا الصّراط المستقيم
Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.

            Shirath dapat dibaca dengan shad, sin dan tidak berubah artinya. صراط المستقيم : jalan yang lurus, yang jelas tidak berliku-liku. Bisa pula mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah. Atau bisa juga berarti al-Kitab Allah. Sebagaimana riwayat Ali yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: “shiratal mustaqim adalah kitabullah”.
            Tujuan ayat ini adalah minta taufik dan hidayah agar tetap mengikuti apa yang diridhai oleh Allah, maka ia termasuk golongan orang yang mendapat nikmat dari Allah, yakni dari kalangan para Nabi, shiddiqin, shuhada, dan shakihin.  Dan barang siapa mendapatkan taufik dan hidayah seperti itu, maka ia benar-benar seorang muslim yang berpegnag teguh pada kitab Allah dan sunnah Rasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya.[3]
  صراط الّذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضّالين
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
            Maksud dari jalan yang lurus yaitu yang dahulu telah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat ridha dan nikmat dari Allah. Dan orang-orang yang dimaksud ialah mereka yang disebutkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا
Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.(al-Nisak ayat 69-70).
            Ibnu Abbas mengatakan, bahwa makna ayat صراط الّذين أنعمت عليهم ialah jalan orang-orang yang telah diberi nikmat berupa ketaatan beribada kepada Allah, seperti para malaikat, nabi, shidiqqin, shuhada’, dan shalihin.
            Sedangkan makna ayat غير المغضوب عليهم ولا الضّالين ialah mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak melaksanakannya karena mereka tidak memiliki ilmu(agama), sehingga mereka bergelimbang dengan kesesatan.
            Dan bagi yang membaca surat al-Fatihah pada bagian akhirnya disunanhkan untuk membaca “amin” yang berarti “ya Allah kabulkanlah”.
            Abu Hurairah mengatakan bahwa nabi bersabda: “jika imam membaca amin . maka sambutlah bacaan amin, karean sesungguhnya barang siapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaannya amin malaikat, maka dia mendapat ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari dan Muslim).
            Surat ini hanya tujuh ayat, mengendung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Kemudian menyebut hari kemudian, pembalasan, dan tututan. Juga menganjurkan pada manusia supaya meminta kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya, serta lepas bebas dari kekuatan diri menuju keihlasan dalam melakukan ibadah kepada Allah. Kemudian menganjurkan kepada manusia untuk selalu meminta hidayah dan bimbingan Allah agar selalu bisa menapaki jalan yang lurus, sehingga bisa termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang telah mendapat nikmat-Nya. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik, mengerjakan amal shaleh, dan jangan sampai tergolong orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.[4]




DAFTAR PUSTAKA

M Ali as-Ashabuni. shafwatu al-Tafasir. Kairo. Darul Hadis,.2004.
Muhammad bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani. Belajar mudah ilmu  tafsir. terjemah Farid Qusy. Jakarta. Darus sunnah. 2005.
Ibnu Kastir. Terjemah Tafsir Ibnu Katsir. terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy. Surabaya. PT Bina Ilmu. 2002.
 








            [1]Ibnu Kastir, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 2002) hal. 3
                [2]M Ali as-Ashabuni, shafwatu al-Tafasir, (Kairo, Darul Hadis, 2004) hal. 19-20
            [3]Ibnu Kastir, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 2002) hal. 3
            [4]Ibnu Kastir, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 2002) hal.34.

0 komentar:

Posting Komentar