TAFSIR
SURAT AL FATIHAH AYAT 5, 6, DAN 7
Surat al-Fatihah adalah surat yang diturunkan di Makkah,
yang terdiri dari 7 ayat, 29 kalimat, 131 huruf. Ada juga yang mengatakan surat
al-Fatihah terdiri atas 7 ayat, 25 kalimat, dan 125 huruf. Surat ini dinakamakn
dengan surat al-Fatihah disebabkan karena menjadi pembukaan pertama dalam
Alquran dan juga menjadi permulaan bacaan dalam shalat. Selain itu juga di
sebut ummul Quran, Ummul Kitab, as-Sabul Mastani, Alquranul Adhim.[1]
A.
Ayat
Dan Terjemahan
إيّا
ك نعبد وإيّا ك نستعين إهدنا الصّراط
المستقيم صراط الّذين أنعمت عليهم غير
المغضوب عليهم ولا الضّالين
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
B.
Biografi
singkat Syaikh Muhammad Ali Ash
Shabuni
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali
bin Jamil Ash Shabuni. Beliau lahir di kota Halb/Aleppo Syiria pada tahun 1928
M. Setelah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Syiria, beliau pun
melanjutkan pendidikannya di Mesir, dan merampungkan program magisternya di
universitas Al Azhar mengambil tesis khusus tentang perundang-undangan dalam
Islam pada tahun 1954 M. Saat ini bermukim di Mekkah dan tercatat sebagai salah
seorang staf pengajar tafsir dan ulumul Qur’an di fakultas Syari’ah dan Dirasat
Islamiyah Universitas Malik Abdul Aziz Makkah.
Syaikh Ash Shabuni dibesarkan di tengah-tengah keluarga
terpelajar. Ayahnya, Syaikh Jamil, merupakan salah seorang ulama senior di
Aleppo. Ia memperoleh pendidikan dasar dan formal mengenai bahasa Arab, ilmu
waris, dan ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan langsung sang ayah. Sejak usia
kanak-kanak, ia sudah memperlihatkan bakat dan kecerdasan dalam menyerap
berbagai ilmu agama. Di usianya yang masih belia, Ash Shabuni sudah hafal Al
Quran.Tak heran bila kemampuannya ini membuat banyak ulama di tempatnya belajar
sangat menyukai kepribadian Ash Shabuni. Salah satu gurunya adalah sang ayah,
Jamil Ash Shabuni. Ia juga berguru pada ulama terkemuka di Aleppo, seperti
Syaikh Muhammad Najib Sirajuddin, Syaikh Ahmad Al Shama, Syaikh Muhammad Said
Al Idlibi, Syaikh Muhammad Raghib Al Tabbakh, dan Syaikh Muhammad Najib
Khayatah.
Untuk menambah pengetahuannya, Ash Shabuni juga kerap
mengikuti kajian-kajian para ulama lainnya yang biasa diselenggarakan di
berbagai masjid.Setelah menamatkan pendidikan dasar, Ash Shabuni melanjutkan
pendidikan formalnya di sekolah milik pemerintah, Madrasah Al Tijariyyah. Di
sini, ia hanya mengenyam pendidikan selama satu tahun. Kemudian, ia meneruskan
pendidikan di sekolah khusus syariah, Khasrawiyya, yang berada di Aleppo. Saat
bersekolah di Khasrawiyya, ia tidak hanya mempelajari bidang ilmu-ilmu Islam,
tetapi juga mata pelajaran umum. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di
Khasrawiyya dan lulus tahun 1949.Atas beasiswa dari Departemen Wakaf Suriah, ia
melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar, Mesir, hingga selesai strata
satu dari Fakultas Syariah pada tahun 1952. Dua tahun berikutnya, di
universitas yang sama, ia memperoleh gelar magister pada konsentrasi peradilan
Syariah (Qudha Asy Syariyyah). Studinya di Mesir merupakan beasiswa dari
Departemen Wakaf Suria.
Selepas dari Mesir, Syaikh Ash Shabuni kembali ke kota
kelahirannya. Ia mengajar di berbagai sekolah menengah atas yang ada di Aleppo.
Pekerjaan sebagai guru sekolah menengah atas ini ia lakoni selama delapan
tahun, dari tahun 1955 hingga 1962.Setelah itu, ia mendapatkan tawaran untuk
mengajar di Fakultas Syariah Universitas Umm Al Qura dan Fakultas Ilmu
Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz. Kedua universitas ini berada di
Kota Makkah. Ia menghabiskan waktu dengan kesibukannya mengajar di dua perguruan
tinggi ini selama 28 tahun.Karena prestasi akademik dan kemampuannya dalam
menulis, saat menjadi dosen di Universitas Umm Al Qura, Ash Shabuni pernah
menyandang jabatan ketua Fakultas Syariah. Ia juga dipercaya untuk mengepalai
Pusat Kajian Akademik dan Pelestarian Warisan Islam. Hingga kini, ia tercatat
sebagai guru besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas
King Abdul Aziz.
Di samping mengajar di kedua universitas itu, Syaikh Ash
Shabuni juga kerap memberikan kuliah terbuka bagi masyarakat umum yang
bertempat di Masjidil Haram. Kuliah umum serupa mengenai tafsir juga digelar di
salah satu masjid di Kota Jeddah. Kegiatan ini berlangsung selama sekitar
delapan tahun.Setiap materi yang disampaikannya dalam kuliah umum ini, oleh Ash
Shabuni, direkam-nya dalam kaset. Bahkan, tidak sedikit dari hasil rekaman
tersebut yang kemudian ditayangkan dalam program khusus di televisi. Proses
rekaman yang berisi kuliah-kuliah umum Syaikh Ash Shabuni ini berhasil
diselesaikan pada tahun 1998.
Di samping sibuk mengajar, Syaikh Ash Shabuni juga aktif dalam
organisasi Liga Muslim Dunia. Saat di Liga Muslim Dunia, ia menjabat sebagai
penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al Quran dan sunnah. Ia
bergabung dalam organisasi ini selama beberapa tahun. Setelah itu, ia
mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk menulis dan melakukan penelitian.
Salah satu karyanya yang terkenal adalah Shafwah At Tafasir.
Kitab tafsir Al Quran ini merupakan salah satu tafsir terbaik karena luasnya
pengetahuan yang dimiliki oleh sang pengarang. Selain dikenal sebagai hafiz Al
Quran, Syaikh Ash Shabuni juga memahami dasar-dasar ilmu tafsir, guru besar
ilmu syariah, dan ketokohannya sebagai seorang intelektual Muslim. Hal ini
menambah bobot kualitas dari tafsirnya ini.
Menurut penilaian Syaikh Abdullah Khayyat, khatib Masjidil
Haram dan penasehat kementrian pengajaran Arab Saudi, Syaikh Ash Shabuni adalah
seorang ulama yang memiliki banyak pengetahuan, salah satu cirinya adalah
aktivitasnya yang mencolok dalam bidang ilmu dan pengetahuan, Ia banyak
menggunakan kesempatan berlomba dengan waktu untuk menelurkan karya ilmiahnya
yang bermanfaat dengan member konteks pencerahan, yang merupakan buah
penelaahan, pembahasan dan penelitian yang cukup lama.
Dalam menuangkan pemikirannya, Syaikh Ash Shabuni tidak
tergesa-gesa, dan tidak berorientasi mengejar banyak karya tulis, namun
menekankan segi ilmiah ke dalam pemahaman serta aspek-aspek kualitas dari
sebuah karya ilmiah, untuk mendekati kesempurnaan dan segi kebenaran.
C.
Penafsiran
Ayat Ali Ash Shabuni Dalam Shafwah
Al Tafasir
1. Mufradat
المستقيم : tidak bengkok (lurus)
أمين : kalimat doa dan
tidak termasuk ayat Alquran.
2. Tafsir Ayat
إيّا
ك نعبد وإيّا ك نستعين
Hanya kepadamu ya Allah
kami merendahkan diri, tunduk, patuh, khusu’ dan tenang. Kami hanya menyembahmu
ya Tuhanku aku mohon pertolongan untuk senantiasa bisa taat dan mendapatkan
ridhamu. Engkau adlah Dzat yang berhak mendapat segala keagungan dan ta’dzim.
Dan tak ada seorangpun yang selain engkau yang mampu memberikan pertolongan
kepada kami.
إهدنا الصّراط
المستقيم
Bimbinglah kami dan
tuntunlah kami ke jalanmu, jalan yang benar dan jalan yang lurus, dan
tetapkanlah kami untuk selalu berpegang teguh kepada islam, agama yang
ajarannya di bawah oleh para Nabi dan Raul yang kemudian diteruskan oleh
penutup para Rasul (Muhammad SAW).jadikanlah kami sebagai orang yang meniti
jalan hamba-hamba yang dekat dengan-Mu.
صراط الّذين أنعمت عليهم
Jalan orang-orang yang
telah kau utamakan dengan kehidupan yang menyenangkan, yang telah kau penuhi
dengan kenikmatan seperti jalan para nabi, Shiddiqin (orang-orang jujur),
orang-orang yang mati syahid, orang-orang shaleh dan mereka itulah teman yang
sebaik- sebaiknya.
غير
المغضوب عليهم ولا الضّالين
Dan janganlah engkau
jadikan kami termasuk kelompok orang-orang yang bingung dan tersesat dari jalan
yang lurus, orang-orang yang menyimpang dari syariat-Mu yang suci, dari jalan
lurus-Mu, orang-orang yang menentangmu dan memusuhimu seperti orang Yahudi dan
Nasrani, yang telah sesat dan menyekutukanmu, sehingga mereka mendapatkan
laknat dan murka, sampai hari pembalasan, Allahumma Amin.[2]
3. Balaghah
إيّا
ك نعبد وإيّا ك نستعين
Ini mengandung unsur
“iltifat” (peralihan) dari kata ganti orang ketiga (ghaibah) kepada kata ganti
orang kedua (khitab), untuk menjadikan kalimat agar bervariasi dan beraneka
ragam, dan aslinya adalah إيّا ه نعبد di dahulukan objek penderita (maful) atas
kata kerja (fiil), dan kalimat ini mengandung faedah membatasi (qashar) dan
menghususkan (tahsis) seperti yang terdapat dalam firman وإيّاي فارهبون . dalam bahrul muhid unsur fashahah dan
balaghah yang terkandung dalam surat ini antara lain sebagai berikut:
a) Baiknya
pembukaan dan indahnya permulaan
b) Kesempurnaan
dalam memuji karena adanya huruf alif lam yang berfaedah “istighraq”
(mencakup keseluruhan jenis pujian)
c) Bervariasinya
seruan pada firman-Nya, karena bentuknya “kalam khabar” tetapi maknanya
perintah yakni “ucapkanlah segala puji bagi Allah”
d) Adanya
takhsis pada kata “Allah”
e) Adanya
pembuangan kata (hazf) seperti membuang kata “shirath” dalam firman-Nya غير المغضوب عليهم ولا الضّالين sedang
perkiraannya ialah
غير صراط المغضوب عليهم وغير صراط ولا الضّالين
f) Adanya
unsur takdim dan takkhir dalam إيّا ك نعبد
g) Adanya
penjelasan setelah di samarkannya kata الصّراط
المستقيم yang kemudian
dijelaskan dengan صراط الّذين أنعمت عليهم
h) Adanya
unsur “iltifat” (peralihan) dalam إيّا ك نعبد وإيّا ك
نستعين
i)
Adanya
permohonan, namun yang diharapkan bukan sekedar keberhasilan memperoleh apa
yang diminta, akan tetapi kelangsungan dan kelanggengannya, seperti terdapat
dalam firman إهدنا الصّراط المستقيم tetapkanlah kamiselalu berda dalm
jalan yang lurus
j)
Adanya unsur
sajak seirama yakni keselarasan dua kata, seperti dalam firman-Nya الرحمن الرحيم صراط
المستقيم dan الضّالين نستعين
D.
Biografi
Singkat Ibnu Katsir
Nama lengkap Ibnu Katsir ialah, Abul
Fidâ ‘Imaduddin Isma’il bin Syeh Abi Haffsh Syihabuddin Umar bin Katsir
bin Dla`i ibn Katsir bin Zarâ` al-Qursyi al-Damsyiqi. Ia di lahirkan di kampung
Mijdal, daerah Bashrah sebelah timur kota Damaskus, pada tahun 700 H. Ayahnya
berasal dari Bashrah, sementara ibunya berasal dari Mijdal. Ayahnya bernama
Syihabuddin Abu Hafsh Umar ibn Katsir. Ia adalah ulama yang faqih serta
berpengaruh di daerahnya. Ia juga terkenal dengan ahli ceramah. Hal ini
sebagaimana di ungkapkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya (al-Bidâyah wa
al-Nihâyah). Ayahnya lahir sekitar tahun 640 H, dan ia wafat pada bulan Jumadil
‘Ula 703 H. di daerah Mijdal, ketika Ibnu Katsir berusia tiga tahun, dan
dikuburkan di sana.
Ibnu Katsir mulai sedari kecil mencari
ilmu. Semenjak ayahnya wafat kala itu Ibnu Katsir baru berumur tiga tahun,
selanjutnya kakaknya bernama Abdul Wahab yang mendidik dan mengayomi Ibnu
Katsir kecil. Ketika genap usia sebelas tahun, Ia selesai menghafalkan
al-Qur`an.
Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke
Damaskus. Ia belajar kepada dua Grand Syaikh Damaskus, yaitu Syaikh Burhanuddin
Ibrahim Abdurrahman al-Fazzari (w. 729) terkenal dengan ibnu al-Farkah,
tentang fiqh syafi’i. lalu belajar ilmu ushul fiqh ibn Hâjib
kepada syaikh Kamaluddin bin Qodi Syuhbah. Lalu ia berguru kepada; Isa bin
Muth’im, syeh Ahmad bin Abi Thalib al-Muammari (w. 730), Ibnu Asakir (w.
723), Ibn Syayrazi, Syaikh Syamsuddin al-Dzhabi (w. 748), Syaikh Abu Musa
al-Qurafi, Abu al-Fatah al-Dabusi, Syaikh Ishaq bin al-Amadi (w.
725), Syaikh Muhamad bin Zurad. Ia juga sempat ber-mulajamah kepada
Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mazi (w. 742), sampai ia mendapatkan
pendamping hidupnya. Ia menikah dengan salah seorang putri Syaikh al-Mazi. Syeh
al-Mazi, adalah yang mengarang kitab “Tahdzîbu al-kamâl” dan “Athrâf-u
al-kutub-i al-sittah“.
Begitu pula, Ibnu Katsir berguru Shahih
Muslim kepada Syaikh Nazmuddin bin al-Asqalani. Selain guru-guru yang telah
dipaparkan di atas, masih ada beberapa guru yang mempunyai pengaruh besar terhadap
Ibnu Katsir; mereka adalah Ibnu Taymiyyah. Banyak sekali sikap Ibnu Katsir yang
terwarnai dengan Ibnu Taymiyah, baik itu dalam berfatwa, cara berpikir juga
dalam metode karya-karyanya. Dan hanya sedikit sekali fatwa beliau yang berbeda
dengan Ibnu Taymiyyah.
Sementara murid-murid beliaupun tidak
sedikit, diantaranya Syihabuddin bin haji. Pengakuan yang jujur lahir dari
muridnya, “Ibnu Katsir adalah ulama yang mengetahui matan hadits, serta takhrij
rijalnya. Ia mengetahui yang shahih dan dha’if”. Guru-guru maupun sahabat
beliau mengetahui, bahwa ia bukan saja ulama dalam bidang tafsir, juga hadits
dan sejarah. Sejarawan sekaliber al-Dzahabi, tidak ketinggalan memberikan
sanjungan kepada Ibnu Katsir, “Ibnu Katsir adalah seorang mufti, muhaddits,
juga ulama yang faqih dan kapabel dalam tafsir”.
Genap usia tujuh puluh empat tahun
akhirnya ulama ini wafat, tepatnya pada hari Kamis, 26 Sya’ban 774 H. Ia di
kuburkan di pemakaman shufiyah Damaskus, disisi makam guru yang sangat dicintai
dan dihormatinya yaitu Ibnu Taimiyah.
E.
Penafsiran
Ibnu Kasir Dalam Tafsiranya
إيّا
ك نعبد وإيّا ك نستعين
Hanya kepadaengkaulah kami menyembah dan hanya
kepada engkaulah kami mohon pertolongan.
Ibadah
berarti menaati dengan perasaan rendah diri, mengapdi, hamba yang patuh dengan
tuduk. Sedangkan menurut istilah syara’ ibadah merupakan suatu sikap yang
menghimpun rasa kecintaan, ketundukan, dan takut.
Dalam
kalimat ini sengaja di dahulukan mafulnya yakni iyyaka dan di
ulang untuk menunjukkan makna perhatian dan pembatasan, sehingga bermakna “kami
tidak menyembah kecuali hanya kepadamu, tidak berserah diri kecuali bersamamu”.
Pengertian
ini merupakan kesempurnaan dari ketaatan. Sikap beragama secara keseluruhan
berpangkal dari makan kedua kalimat ini, sehingga ulama-ulama terdahulu
mengatakan, bahwa rahasia Alquran ada di
dalam surat Alfatihah dan rahasia surat Alfatihah ada dalam kedua kalimat ini. Sebab, kalimat yang pertama menunjukkan
makana bebas dari syrik, sedangkan yang kedua menunjukkan bebas dari daya dan
kekuatan serta menyerah bulat-bulat kepada Allah.
Menurut
Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas, bahwa makna إيّا ك نعبد ialah “engkau yang kami esakan hanya
kepada engkaulah kami takut dan berharap, wahai Tuhan kami , bukan kepada
selain engkau”. Sedangkan makna إيّا ك نستعين ialah “ dan hanya kepada engkaulah kami
memohon pertolongan untuk taat kepada-Mu dalam semua urusan kami”.
Qatadah
mengatakan bahwa makna إيّا ك نعبد وإيّا ك نستعين ialah “Allah memerintahkan kepada kalian
untuk ihlas dalam beribadah kepada Allah dan benar-benar memohon pertolongan
kapada-Nya dalam semua urusan kalian”.
إهدنا
الصّراط المستقيم
Tunjukilah
kami ke jalan yang lurus.
Shirath dapat dibaca dengan shad,
sin dan tidak berubah artinya. صراط المستقيم : jalan yang lurus, yang jelas tidak
berliku-liku. Bisa pula mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah. Atau bisa juga
berarti al-Kitab Allah. Sebagaimana riwayat Ali yang mengatakan bahwa
Rasulullah bersabda yang artinya: “shiratal mustaqim adalah kitabullah”.
Tujuan
ayat ini adalah minta taufik dan hidayah agar tetap mengikuti apa yang diridhai
oleh Allah, maka ia termasuk golongan orang yang mendapat nikmat dari Allah,
yakni dari kalangan para Nabi, shiddiqin, shuhada, dan shakihin. Dan barang siapa mendapatkan taufik dan
hidayah seperti itu, maka ia benar-benar seorang muslim yang berpegnag teguh
pada kitab Allah dan sunnah Rasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan
semua larangan-Nya.[3]
صراط الّذين أنعمت عليهم
غير المغضوب عليهم ولا الضّالين
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat.
Maksud
dari jalan yang lurus yaitu yang dahulu telah ditempuh oleh orang-orang yang
mendapat ridha dan nikmat dari Allah. Dan orang-orang yang dimaksud ialah
mereka yang disebutkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ
أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا
Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu:
Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang
saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah
karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.(al-Nisak ayat
69-70).
Ibnu
Abbas mengatakan, bahwa makna ayat صراط الّذين أنعمت
عليهم ialah jalan orang-orang
yang telah diberi nikmat berupa ketaatan beribada kepada Allah, seperti para
malaikat, nabi, shidiqqin, shuhada’, dan shalihin.
Sedangkan
makna ayat غير المغضوب عليهم ولا الضّالين ialah mereka yang telah mengetahui
kebenaran tetapi tidak melaksanakannya karena mereka tidak memiliki
ilmu(agama), sehingga mereka bergelimbang dengan kesesatan.
Dan
bagi yang membaca surat al-Fatihah pada bagian akhirnya disunanhkan untuk
membaca “amin” yang berarti “ya Allah kabulkanlah”.
Abu
Hurairah mengatakan bahwa nabi bersabda: “jika imam membaca amin . maka
sambutlah bacaan amin, karean sesungguhnya barang siapa yang bacaan aminnya
bersamaan dengan bacaannya amin malaikat, maka dia mendapat ampunan atas
dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Surat
ini hanya tujuh ayat, mengendung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut
nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Kemudian menyebut hari kemudian,
pembalasan, dan tututan. Juga menganjurkan pada manusia supaya meminta kepada
Allah dan merendahkan diri kepada-Nya, serta lepas bebas dari kekuatan diri
menuju keihlasan dalam melakukan ibadah kepada Allah. Kemudian menganjurkan
kepada manusia untuk selalu meminta hidayah dan bimbingan Allah agar selalu bisa
menapaki jalan yang lurus, sehingga bisa termasuk ke dalam golongan hamba-hamba
Allah yang telah mendapat nikmat-Nya. Juga mengandung anjuran supaya berlaku
baik, mengerjakan amal shaleh, dan jangan sampai tergolong orang yang dimurkai
atau tersesat dari jalan Allah.[4]
DAFTAR
PUSTAKA
M
Ali as-Ashabuni. shafwatu al-Tafasir. Kairo. Darul Hadis,.2004.
Muhammad bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani. Belajar
mudah ilmu tafsir. terjemah Farid Qusy. Jakarta. Darus sunnah. 2005.
Ibnu Kastir. Terjemah Tafsir
Ibnu Katsir. terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy. Surabaya. PT Bina Ilmu.
2002.

0 komentar:
Posting Komentar