Kamis, 24 April 2014

makalah tafsir SIFAT-SIFAT UMUM KAUM MUKMININ DALAM ALQURAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
            Bila kita mengklaim sesuatu, maka kita harus menyiapkan bukti yang mendukung klaim itu. Karena sesuatu dikenal dari cirinya. Maka bila kita - misalnya - mengaku sebagai orang yang pekerja keras, harus dibuktikan bahwa kita memiliki sifat-sifat pekerja keras. Begitu pula seorang yang mengaku muslim, tentu saja harus dibuktikan bahwa ia memiliki sifat-sifat seorang muslim. Seperti memahami makna dua kalimat syahadat dan mengimplementasikan syahadat itu dalam perilakunya.
            Sebagian dari sifat-sifat seorang muslim tergambar dalam firman Allah pada Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 71:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ         

Dan orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 71). Sifat-sifat ini harus lah diperiksa oleh setiap orang yang mengaku mukmin.

B.       Rumusan Masalah
1)    Bagaimana penafsiran surat al-Taubah ayat 71 menurut para mufassir?
2)    Ayat apa sajakah yang mempunyai kolerasi dengan surat al-Taubah ayat 71?
C.      Tujuan Pembahasan
1)      Untuk mengetahui penafsiran surat al-Taubah ayat 71 menurut para mufassir.
2)      Untuk mengetahui beberapa yang yang mempunyai kolerasi dengan surat al-Taubah ayat 71.
BAB II
SIFAT-SIFAT UMUM KAUM MUKMININ DALAM ALQURAN

A.      Surat Al- Taubah Ayat 71 dan Terjemahannya

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ         [1]                     
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
B.       Pokok Kandungan Surat al-Taubah Ayat 71
Isi pokok kandungan dari surat al-Taubah ayat 71 diantaranya sebagai berikut:
1.      Setiap mukmin baik laki-laki ataupun perempuan, mereka semua adalah penolong antar sesama.
2.      Hubungan sosial antara sesama mukmin.
3.      Perintah amar ma`ruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
4.      Pekerjaan amar ma`ruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah sifat-sifat orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan.
5.      Orang-orang mukmin yang mengerjakan amar ma`ruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akan mendapat karunia dari Allah yakni nikmat di dunia dan di akhirat.

C.      Tafsir Mufradat
1)                                                     سيرحمهم               : (akan merahmati mereka), rahmat di sini bukan hanya rahmat di akhirat, tetap melingkupi juga rahmat di dunia dan akhirat. Dan rahmat terbesar antara lain adalah kenikmatan berhubungan dengan Allah dan rahmat ketenangan batin.
2)                                أولياء                     : (penolong), lafal ini bentuk  jama’ dari lafal والي
3)                                                   بعضهم من بعض : (sebagian mereka dari sebagian yang lain), Ada yang berpandangan bahwa ini merupakan isyarat kaum mukminin yang tidak saling menyempurnakan keimanannya lantaran setiap orang mukminin sudah tetap imannya. Dalam artian bahwa mereka telah memiliki keimanan yang mantap, bukan taklid buta.

D.      Munasabah
            Sesudah ayat-ayat yang lalu menerangkan tentang sikap dan tingkah laku orang-orang munafik dan ancaman Allah kepada mereka di dunia dan akhirat, maka ayat ini menerangkan sikap dan sifat-sifat orang orang mukmin.
E.       Tafsir Ayat
            Ayat di atas menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela diantara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama. Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki mukmin karena hubungan seagama sesuai  dengan fitrah kewanitaannya. Istri-istri Rasulullah dan sahabat turut ke medan perang bersama-sama tentara islam untuk menyediakan air minum dan menyiapkan makanan karena, orang mukmin itu terikat oleh tali keimanan yang membangkitkan rasa persaudaraan, kesatuan, saling mengasihi dan saling tolong-menolong. Kesemuanya itu didorong oleh semangat setia kawan yang menjadikan mereka sebagai satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan dalam menegakkan keadilan dan meninggikan kalimah Allah. Sifat mukmin yang seperti itu banyak dinyatakan oleh hadis-hadis Nabi antara lain sebagai berikut:

مثل المؤمنين في توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا شتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد با الحمّى والسّهر
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyantuni dan saling membantu seperti satu jasad, apabila salah stu anggota mendarita, seluruh anggota jasad itu merasakan demam dan tidak bisa tidur. (H.R. al-Bukhari dan Muslim dari  Nu’man dan Basyir).[2]

Tabiat seorang mukmin adalah tabiat orang mukmin , yaitu tabiat bersatu dan setia kawan, tabiat saling menjamin. Tetapi saling menjamin didalam merealisasikan kebaikan dan menolak kejahatan, dengan mengarahkan kesetiakawanannya ini untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar, menjunjung tinggi kalimat Allah, dan untuk merealisasikan pesan-pesan Allah untuk umat ini di muka bumi. Dan mendirikan shalat, sebagai tali penghubung yang menghubungkan mereka dengan Allah. Serta menunaikan zakat sebagai suatu kawajiban yang dapat menghubungkan antar sesama anggota masyarakat, serta untuk merealisasikan kesetiakawanan dan saling menanggung dalam bentuk material dan spiritual.[3]
Mereka taat kepada Allah dan Rasulnya, maka tidak ada keinginan bagi mereka selain menaati perintah Allah dan perintah Rasulnya. Tidak ada bagi mereka undang-undang selain syariat Allah dan Rasulnya, sehingga mereka tidak akan bercerai berai dengan menempuh jalan-jalan lain dan menyimpang dari jalan yang lurus.mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, rahmat itu tidak hanya ada di akhirat saja, rahmat Allah utu meliputi  setiap orang yang melaksanakan tugas amar makruf nahi mungkar, serta mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, dan meliputi jamaah dan masyarakat yang terdiri dari pribadi-pribadi yang shaleh semacam ini.
Rahmat Allah terwujud dalam ketenangan hati, dalam berhubungan dengan Allah, dan dalam keterpeliharaan dan keterlindungan dalam fitnah dan peristiwa-peristiwa yang menggoncagkan. Empat sifat yang ada pada orang mukmin, amar makruf nahi mungkar, mengerjakan shalat, dan  menunaikan zakat, ini merupakan kebalikan dari orang munafik mengerjakan yang mungkar dan melarang berbuat baik, melupakan Allah dan menggenggam tangan (tidak mau menunaikan zakat) rahmat Allah kepada orang mukmin dan laknat Allah bagi orang-orang munafik dan orang-orang kafir.[4]
Orang-orang mukmin yang memiliki sifat-sifat seperti inilah yang dijanjikan Allah untuk diberi pertolongan dan kekuasaan dimuka bumi, agar mereka dapat melaksanakan ajaran yang benar dan lurus kepada manusia. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana. Maha kuasa unntuk memperkasakan golongan beriman, supaya sebagian mereka dapat menjadi penolong bagi sebagian yang lain dalam mengemban tugas-tugas ini. Maha bijaksana dalam menentukan pertolongan dan keperkasaan bagi mereka, agar layak memimpin dunia dan menjaga kalimat Allah diantara manusia.

F.       Ayat Lain Yang Semakna
Ayat-ayat yang semakna  dengan surat al-Taubah ayat 71 diantaranya sebagai berikut:
1)      Penjelasan mengenai tolong –menolong antar sesama manusia terdapat dalam surat sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S.  al-Maidah: 2)

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Q.S. al-Anfal: 73)

2)      Penjelasan tentang  amar ma`ruf nahi mungkar dalam surat sebagai berikut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.( Q.S. Ali Imran: 110).

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(Q.S. Ali Imran: 104)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Lukman: 17).

3)      Penjelaskan mengenai Sifat-sifat orang mukmin sebagai berikut:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.  orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.  (Q.S. al-Anfal: 2-3)

G.      Pelajaran Ijtimaiy
            Ayat ini menyebutkan bahwa sifat orang mukmin adalah mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan dan menasihati mereka meninggalkan keburukan dan dosa. Pada dasarnya, amr makruf dan nahi munkar merupakan salah satu kewajiban penting agama Islam. Ajaran Islam tidak hanya memberikan kewajiban individu kepada umatnya, melainkan juga kewajiban bersama untuk saling menasehati satu sama lain.
            Islam tidak mengizinkan kaum Muslimin untuk berdiam diri di hadapan kejelekan dan penyimpangan yang terjadi di dalam masyarakat. Karena sesungguhnya sebuah masyarakat adalah bagaikan sebuah perahu. Apabila perahu tersebut mengalami kebocoran, maka seluruh penumpang perahu itu akan tenggelam. Untuk itulah, akal dan syariat Islam memerintahkan setiap individu untuk menjaga keselamatan masyarakatnya dengan cara saling menasehati agar setiap orang berbuat baik dan menjauhi kemungkaran.
Dari surat al-Taubah ayat71 ini terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.      kaum wanita dan pria, masing-masing memiliki peran penting dalam perbaikan masyarakat. karena amar dan nahi mungkar bukan hanya kewajiban kaum lelaki saja, akan tetapi kewajiban seluruh kaum mukminin dan mukminat.
2.      amar makruf dan nahi mungkar, mendirikan shalat, membayar zakat dan menaati seluruh perintah Allah adalah perilaku yang harus dilakukan secara kontinyu oleh orang-orang yang beriman.














BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari rumusan masalah diatas maka bisa disimpulkan sebagai berikut:
1.      Menurut penafsiran departemen RI dan Quraish Shihab bahwa Ayat di atas menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela diantara mereka. Ayat di atas lebih cenderung mnjelaskan mengenai sifat umum orang mukmin yakni, Empat sifat yang ada pada orang mukmin, amar makruf nahi mungkar, mengerjakan shalat, dan  menunaikan zakat.
2.      Surat di atas memiliki kolerasi penjelasan yang sama dengan beberapa ayat-ayat yang ada di dalam Alquran diantaranya, Q.S al-Anfal ayat 2-3 dan 73, Q.S. lukman ayat 17, Q.S. Ali Imran ayat 104, 110, 114, Q. S.al-Maidah ayat 2.














DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. Alquran Dan Terjemahannya. Bandung: CV Penerbit J-ART. 2005.
Kementrian Agama RI.  Alquran Dan Tafsirannya. Jakarta: Widya Cahaya. 2011.
M. Quraish Shihab. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Gema Insani. 2003.
Sayyid Quthb. Tafsir fi Zhilalil Quran. Jakarta: Gema Insani. 2003.


                [1]Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Bandung: CV Penerbit J-ART, 2005) hal. 198
                [2]Ibid. 152
                [3]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Gema Insani, 2003) hal 377
                [4]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Quran, (Jakarta: Gema Insani, 2003) hal 378

0 komentar:

Posting Komentar