TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DAN ATHEIS
Pengertian Agama dan Pentingnya Agama Bagi Manusia
Agama memang
satu istilah yang telah menjadi milik bahasa Indonesia, tetapi untuk mengetahui
intinya, sebaiknya dituliskan dahulu dari aslinya. Agama berasal dari bahasa
sangsekerta yakni a: tidak, gama: kacau. Jadi, tidak kacau, yang dimaksud
adalah untuk mengatur kehidupan manusia supaya tidak kacau, aman, tentram dan
teratur.[1]
Dalam Ensiklopedia
Indonesia diterangkan tentang Agama (umum) yaitu: manusia mengakui dalam
agama adanya Yang suci: manusia itu insaf, bahwa suatu kekuasaan yang
memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap
sebagai asal atau Khalik segala yang ada. Tentang kekuasaan inio bermacam-macam
bayangan yang terdapat pada manusia, demikian pula cara membayangkannya.
Demikianlah tuhan duanggap oleh manusia sebagai tenaga gaib di seluruh Dunia
dan dalam unsur-unsurnya atau sebagai khalik rohani. Tenaga gaib ini dapat
menjelma dalam alam (animisme), dalam buku suci (Torat), atau dalam manusia
(Kristen).[2]
|
8
|
Kemudian
melihat asal muasal Agama, maka kita dapat menggolongkan Agama menjadi dua
macam Agama: Thabi’i dan Samawi. Agama Thabi’i adalah agama ciptaan manusia,
hasil renungan budidaya manusia, ia diadakan berdsarkan pikiran, perasaan, dan
khayalan, yang kemudian dijadikan suatu pegangan hidup sesuai dengan
kehendaknya sendiri.[4]
Agama samawi atau disebut juga agama langit, adalah agama yang dipercaya
oleh para pengikutnya dibangun berdasarkanwahyu Allah. Beberapa pendapat
menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi jika:
a) Mempunyai definisi Tuhan yang jelas
b) Mempunyai penyampai
risalah (Nabi/Rasul)
c) Mempunyai kumpulan wahyu
dari Tuhan yang diwujudkan dalam Kitab Suci
Kekudusan atau kesucian agama terletak dan tercermin pada ajaran yang
dipandang sakral oleh pemeluknya. Sebagai acuan atau pedoman hidup, setiap
penganut agama akan berupaya sedepat mungkin sesuai dengan kapasitas kemampuan
masing-masing mengaktualisasi ajaran agamanya dalam perilaku sosial
kesehariannya. dalam kondisi seperti ini maka agama akan nampak atau menyatakan
dirinya dalam bentuk tingkah laku keagamaan baik secara format individual
maupun kelompok, dan secara sosiologis.[5]
Manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu. ketika itu yang diketahui
hanyalah “saya tidak tahu”. tetapi kemudian dengan panca indra, akal dan
jiwanya sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah. kemudian melalui
pengamatan, percobaan pemikiran yang logis dan pengalamannya, ia menemukan
pengetahuan. Namun karena keterbatasan panca indra, dan akal menjadikan sekian
banyak tanda Tanya dalam benak manusia tidak dapat terjawab. Maka dengan
agama-lah informasi Tuhan datang.[6]
Untuk memelihara kelangsungan hidup, masyarakat memerlukan berbagai
kebutuhan. Sebagian dari kebutuhan tersebut berbentuk mental spiritual yang
bisa dipenuhi oleh ajaran agama. Agama dapat menanamkan dan menimbulkan pesan
dan nilai-nilai yang fungsional; menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat
dalam rangka tercapainya konsensus tentang norma-norma sosial. Agama mampu
berperan membantu memaksa supaya warganya memenuhi an memahami tuntutan
kewajiban sosial yang diperintahkan agama, termasuk kewajiban sosial yang
digariskan oleh pemerintah dan pembangunan.[7]
Selain itu, agama juga mampu memberi tuntunan pada semua prilaku
dan tindakan manusia agam mempunyai makna yang jauh lebih dalam dan tidak
terbatas hanya pada efek langsung dari perbuatan itu sendiri. Orang merasa dosa
dan yakin akan mendapat siksa bila berbuat aniaya. sebaliknya akan merasa yakin
mendapatkan ketentraman serta pahala bila berbuat keutamaan.[8]
Adapun fungsi agama dari segi sains
sosial:
1. Memberi
pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia
karena ia sentiasanya memberipenerangan kepada dunia (secara keseluruhan), dan
juga kedudukan manusia di dalam dunia.Penerangan dalam masalah ini sebenarnya
sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikitpenerangan daripada
falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwadunia adalah
ciptaan Allah SWT dan setiap manusia harus menaati Allah SWT. Begitu juga untuk
yang beragama lain dengan kepercayaan kepada Tuhan yg di miliki.[9]
2. Menjawab berbagai
pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia
Sebagian pertanyaan yang senantiasa ditanya oleh manusia
merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri.
Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup,soal nasib dan
sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat
menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk
menjawab persoalan-persoalan ini.[10]
3. Memberi rasa
kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok
manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan
yang sama, melainkan tingkah laku,pandangan dunia dan nilai yang sama.[11]
4. Memainkan
fungsi peranan sosial
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada
kebaikan. Dalam ajaran agama sendirisebenarnya telah menggariskan kode etika
yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka inidikatakan agama memainkan fungsi
peranan sosial.[12]
Adapun bukti-bukti mengapa agama itu
sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain:
1.
Karena agama sumber moral
2.
Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
3.
Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4.
Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, baik di kala suka
maupun di kala duka.[13]
B.
Pengertian
Islam, Kafir dan Atheis
Di dalam bab
terdahulu telah disinggung bahwa Islam adalah satu-satunya agama murni samawi.
Bagaimana dengan halnya agama nasrani dan agama yahudi dalam bentuknya yang
murni? kedua agama termaksud dalam bentuknya yang asli tentu saja adalah agama
murni samawi. Dan oleh karena itu, kedua agama termaksud dalam bentuknya yang
murni menurut Alquran adalah Islam. bahkan menurut Alquran agama yang dianut
semua nabi-nabi Allah SWT. itu seluruhnya adalah Agama Islam.[14]
Terlihat dari beberapa
firman Allah berikut:
(#þqä9qè% $¨YtB#uä «!$$Î/ !$tBur tAÌRé& $uZøs9Î) !$tBur tAÌRé& #n<Î) zO¿Ïdºtö/Î) @Ïè»oÿôÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètur ÅÞ$t6óF{$#ur !$tBur uÎAré& 4ÓyqãB 4Ó|¤Ïãur !$tBur uÎAré& cqÎ;¨Y9$# `ÏB óOÎgÎn/§ w ä-ÌhxÿçR tû÷üt/ 7tnr& óOßg÷YÏiB ß`øtwUur ¼çms9 tbqãKÎ=ó¡ãB ÇÊÌÏÈ [15]
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada
Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada
Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada
Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami
tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh
kepada-Nya".
bÎ*sù öNçFø©9uqs? $yJsù /ä3çGø9r'y ô`ÏiB @ô_r& ( ÷bÎ) yÌô_r& wÎ) n?tã «!$# ( ßNöÏBé&ur ÷br& tbqä.r& ÆÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÐËÈ[16]
Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah
sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku
disuruh supaya aku Termasuk golongan muslimin.
`tBur Ü=xîöt `tã Ï'©#ÏiB zO¿Ïdºtö/Î) wÎ) `tB tmÏÿy ¼çm|¡øÿtR 4 Ïs)s9ur çm»uZøxÿsÜô¹$# Îû $u÷R9$# ( ¼çm¯RÎ)ur Îû ÍotÅzFy$# z`ÏJs9 tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÌÉÈ øÎ) tA$s% ¼ã&s! ÿ¼çm/u öNÎ=ór& ( tA$s% àMôJn=ór& Éb>tÏ9 tûüÏJn=»yèø9$# [17]ÇÊÌÊÈ
(130) Dan tidak
ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya
sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di
akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh. (131)Ketika Tuhannya
berfirman kepadanya: "Islamlah dikau!" Ibrahim menjawab: "Aku telah
islam kepada Tuhan semesta alam".
* Éb>u ôs% ÓÍ_tF÷s?#uä z`ÏB Å7ù=ßJø9$# ÓÍ_tFôJ¯=tãur `ÏB È@Írù's? Ï]Ï%tnF{$# 4 tÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur |MRr& ¾ÇcÍ<ur Îû $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur ( ÓÍ_©ùuqs? $VJÎ=ó¡ãB ÓÍ_ø)Åsø9r&ur tûüÅsÎ=»¢Á9$$Î/ ÇÊÉÊÈ [18]
Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku
sebahagian ta'bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah
pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan
gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
tA$s%ur 4ÓyqãB ÇPöqs)»t bÎ) ÷LäêYä. LäêYtB#uä «!$$Î/ Ïmøn=yèsù (#þqè=©.uqs? bÎ) LäêYä. tûüÏJÎ=ó¡B ÇÑÍÈ [19]
berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah,
Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah
diri."
* !$£Jn=sù ¡§ymr& 4|¤Ïã ãNåk÷]ÏB tøÿä3ø9$# tA$s% ô`tB üÍ$|ÁRr& n<Î) «!$# ( ^$s% cqÍ#uqysø9$# ß`øtwU â$|ÁRr& «!$# $¨YtB#uä «!$$Î/ ôygô©$#ur $¯Rr'Î/ cqßJÎ=ó¡ãB ÇÎËÈ [20]
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)
berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk
(menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia)
menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada
Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah
diri.
Selanjutnya Allah SWT berkenan mengutus Rasul-Nya, penutup para
rasul Allah yang terdahulu itu. Firman Allah:
* !$¯RÎ) !$uZøym÷rr& y7øs9Î) !$yJx. !$uZøym÷rr& 4n<Î) 8yqçR z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ 4 !$uZøym÷rr&ur #n<Î) zOÏdºtö/Î) @Ïè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètur ÅÞ$t6óF{$#ur 4Ó|¤Ïãur z>qr&ur }§çRqãur tbrã»ydur z`»uKøn=ßur 4 $oY÷s?#uäur y¼ãr#y #Yqç/y ÇÊÏÌÈ Wxßâur ôs% öNßg»oYóÁ|Ás% øn=tã `ÏB ã@ö6s% Wxßâur öN©9 öNßgóÁÝÁø)tR øn=tã 4 zN¯=x.ur ª!$# 4ÓyqãB $VJÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ Wxß tûïÎÅe³t6B tûïÍÉYãBur xy¥Ï9 tbqä3t Ĩ$¨Z=Ï9 n?tã «!$# 8p¤fãm y÷èt/ È@ß9$# 4 tb%x.ur ª!$# #¹Ítã $VJÅ3ym ÇÊÏÎÈ [21]
(163)
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak
cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada
Daud. (164) Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami
kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami
kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan
langsung. (165) (mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira
dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah
Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.
Dari rangkaian
ayat-ayat termaktub dan termaksud di atas maka jelas dan tegaslah sudah, bahwa
menurut Alquran, Islam adalah satu-satunya agama murni samawi, sepanjang masa
dan setiap persada. Jadi dalam rangka mendefinisikan Endang Saifuddin
membaginya menjadi beberapa point, yaitu:
a)
Agama Islam
ialah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulnya untuk segenap umat
manusia; sepanjang masa dan setiap tempat.
b)
Satu sistem
keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala prikehidupan dan penghidupan
manusia dalam berbagai huubungan, baik hubungan manusia dengan Tuhannya maupun
manusia dengan sesama manusia, ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya
(nabati, hewani, dan lain sebagainya).
c)
Bertujuan
mencari keridhaan Allah, kebahagiaan di dunia dan di akhirat, rahmat bagi
segenap alam.
d)
Pada garis
besarnya terdiri atas : Aqidah, Syariah (yang meliputui ibadah dalam arti khas
dan mu’amalah dalam arti luas), dan Akhlaq.
e)
Bersumberkan
Kitab suci, yaitu kodifikasi wahyu Allah SWT untuk umat manusia di atas planet
bumi ini.yaitu Alquran Al-Karim sebagai penyempurna wahyu-wahyu Allah
sebelumnya.[22]
Sedangkan
pengertian Kufur dalam bahasa arab berarti menyembunyikan dan
menutup. Al-Qurthubiy juga menyatakan bahwa asal makna kafir (al-kufr) adalah
tertutup (al-sitru wa al-taghthiyah). Oleh karenanya, orang Arab
menyebut “malam” dengan kata kafir karena malam menyembunyikan sesuatu
sehingga tidak nampak oleh mata.[23]
Kafir adalah lawan
dari iman. Jika iman berarti mengetahui Allah maka kafir adalah tidak
mengetahui Allah. Jika dikatakan iman adalah taat maka kafir berarti maksiat.
Sehingga orang kafir adalah orang yang tidak bisa mengetahui dan memahami Allah
dan segala yang datang dari Allah, sehingga tidak bisa percaya kepada-Nya, dan
cenderung melakukan maksiat kepada Allah. Definisi lain untuk kafir adalah
sebutan bagi orang-orang yang keluar dari landasan islam. Seorang yang kafir
dapat melihat dalil-dalil tauhid di hadapannya dan sesuatu yang mendorongnya
agar beriman kepada Allah, tetapi dia tetap berbuat dalam kebatilan dan
kekufurannya seolah-olah dia tidak dapat melihat dalil tersebut.[24]
Adapun istilah atheis identik dengan orang-orang yang meyakini ketiadaan tuhan. Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang
tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap
teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada
keberadaan dewa atau Tuhan.[25]
Jadi
secara peyoratif istilah atheis digunakan untuk merujuk pada siapapun yang
kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di
lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan
kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada
mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai
"ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3%
populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis.
Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik, ataupun orang yang
tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di
Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).[26]
Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan
fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan
argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah. Pada kebudayaan Barat,
ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius).Beberapa aliran
Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah 'Tuhan' dalam berbagai upacara
ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan
istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik.Walaupun
banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi
sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi
atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.[27]
Paham Theisme, secara umum didefinisikan sebagai
kepercayaan pada adanya paling tidak satu Tuhan/Dewa. Berkebalikan dengan hal
ini adalah Paham Atheisme yang dapat didefinisikan secara umum sebagai tidak
adanya kepercayaan atas keberadaan Tuhan / setiap Dewa. Kebanyakan
ketidaksetujuan atas pendapat ini berasal dari orang-orang Kristen yang
bersikeras bahwa ateisme merupakan penolakan atas adanya dewa, atau setidaknya
atas adanya Tuhan mereka. Hanya karena sebatas tidak adanya keyakinan
pada Tuhan, mereka mengklaim , baik yang berpandangan agnostisisme - meskipun
agnostisisme memiliki definisi tersendiri dan merupakan konsep yang berbeda
sekali (dengan Atheisme).[28]
Definisi
secara umum dari atheisme yang merupakan definisi paling akurat. Bukan hanya
karena menggunakan definisi ateis yang dapat dengan mudah diterima, akan tapi definisi ini didukung
dengan sesuatu yang komprehensif, kamus lengkap. Tetapi bukanlah karena
menawarkan definisi dari kamus tidak berarti bahwa itu merupakan definisi yang
"lebih baik". Kadang kala mungkin untuk beberapa kasus, gagasan bahwa
definisi lain akan lebih baik untuk digunakan- mungkin itu dapat menghilangkan
kebingungan dan menjadi lebih tepat untuk digunakan.Keunggulan dari definisi
secara umum atas definisi secara sempit (dari Atheisme) terletak pada kenyataan
bahwa hal itu memungkinkan kita untuk menggambarkan (Atheisme) dengan sudut
pandang yang lebih luas.[29]
Bagi
mereka yang bersikeras pada definisi yang sempit, ada tiga pandangan dasar: (1) Teisme: keyakinan pada Tuhan
(saya).
(2) Agnostisisme: tidak
tahu jika dewa-dewa benar-benar ada.
(3) Ateisme: penolakan
terhadap Tuhan (saya).[30]
Secara
alami Atheisme memiliki dua poin ciri klarifikasi lebih lanjut yang melibatkan
ide-ide umum tentang theisme. Yang pertama melibatkan gagasan tentang
"Tuhan" secara metafora - misalnya, seorang Theis yang percaya pada
"Tuhan" sebagai prinsip hati nurani atau moralitas. Pada pandangan
ini "Tuhan" ada dalam pikiran seseorang dan hal ini tidak dijadikan
permasalahan bagi seorang Atheis. Ateis setuju bahwa Tuhan ada sebagai gagasan
dalam pikiran masyarakat; ketidaksepakatan terletak di atas apakah Tuhan
benar-benar ada secara independen yang berada diluar dari kepercayaan manusia.
Mereka inilah para dewa / Tuhan yang tidak diyakini atau ditolak oleh seorang
Atheis.[31]
Jenis kedua Theisme melibatkan dewa yang ada sebagai
obyek fisik: batu, pohon, sungai, atau bahkan alam semesta itu sendiri.
Orang-orang yang meyakini hal tersebut memperlakukan benda-benda ini menjadi
dewa-dewa mereka, tapi apakah orang-orang ateis menolak keberadaan mereka?
Tentu saja tidak - tetapi bagaimana mereka tetap memiliki pandangan Atheis?
Titik ketidaksepakatan di sini adalah apakah label "Tuhan" memiliki
ciri yang dapat disandingkan dengan label yang lebih umum dari "batu,"
"pohon," atau "alam semesta" Jika tidak., inilah yang
menjadikan orang-orang ateis prihatin, objek tersebut tidak memiliki ciri
daripada "Tuhan" dan menjadikan mereka tetap memilih untuk menjadi
Atheis.[32]
[1]Endang Saifuddin Anshari, Agama dan Kebudayaan, (Surabaya:
Bina Ilmu, 1979), 14.
[3]http://tafsirhaditsuinsgdbdgangkatan2009.blogspot.com/2012/04/makalah-manusia-dan-hubungan-antar.html
[4]Ibid.,
[5]Mursyid Ali, Pluralitas Sosial dan Hubungan Antar Agama,
(Jakarta: Badan Penelitian Pengembangan Agama, 1999), 2.
[6]Shihab, Membumikan Al-Quran…, 211.
[7]Mursyid Ali, Pluralitas Sosial dan Hubungan Antar Agama,
(Jakarta: Badan Penelitian Pengembangan Agama, 1999), 5.
[9]http://abdulrais12415.blogspot.com/2013/02/hubungan-manusia-dengan-agama.html
[10]Ibid.,
[11]Ibid.,
[12]Ibid.,
[13]Ibid.,
[14]Anshari, Agama dan Kebudayaan…, 21.
[15]Al-Baqarah: 136.
[16]Yunus:72.
[17]Al-Baqarah:130-131.
[18]Yusuf: 101.
[19]Yunus: 84.
[20]Ali Imran: 52.
[21]An-Nisa’: 163-165.
[22] Anshari, Agama dan Kebudayaan…, 21
[23]http://pmat-sukijo.blogspot.com/2011/03/pengertian-iman-islam-dan-kafir.html
[24]ibid.
[25]PENGERTIAN ATHEISME _ JURNAL.htm
[27]Ibid.,
[28]Ibid.,
[29]Ibid.,
[30]Ibid.,
[31]Ibid.,
[32]Ibid.,

0 komentar:
Posting Komentar