Rabu, 07 Oktober 2015

TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DAN ATHEIS



TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DAN ATHEIS
Pengertian Agama dan Pentingnya Agama Bagi Manusia
Agama memang satu istilah yang telah menjadi milik bahasa Indonesia, tetapi untuk mengetahui intinya, sebaiknya dituliskan dahulu dari aslinya. Agama berasal dari bahasa sangsekerta yakni a: tidak, gama: kacau. Jadi, tidak kacau, yang dimaksud adalah untuk mengatur kehidupan manusia supaya tidak kacau, aman, tentram dan teratur.[1]
Dalam Ensiklopedia Indonesia diterangkan tentang Agama (umum) yaitu: manusia mengakui dalam agama adanya Yang suci: manusia itu insaf, bahwa suatu kekuasaan yang memungkinkan dan melebihi segala yang ada. Kekuasaan inilah yang dianggap sebagai asal atau Khalik segala yang ada. Tentang kekuasaan inio bermacam-macam bayangan yang terdapat pada manusia, demikian pula cara membayangkannya. Demikianlah tuhan duanggap oleh manusia sebagai tenaga gaib di seluruh Dunia dan dalam unsur-unsurnya atau sebagai khalik rohani. Tenaga gaib ini dapat menjelma dalam alam (animisme), dalam buku suci (Torat), atau dalam manusia (Kristen).[2]
8
Sedangkan kata ad-din berasal dari bahasa Arab, yang artinya: tanggungan, hutang, peraturan yang harus dilaksanakan, hutang yang harus dibayar dan dipertanggungjawabkan, atau juga aturan yang dibuat. [3]
Kemudian melihat asal muasal Agama, maka kita dapat menggolongkan Agama menjadi dua macam Agama: Thabi’i dan Samawi. Agama Thabi’i adalah agama ciptaan manusia, hasil renungan budidaya manusia, ia diadakan berdsarkan pikiran, perasaan, dan khayalan, yang kemudian dijadikan suatu pegangan hidup sesuai dengan kehendaknya sendiri.[4]
Agama samawi atau disebut juga agama langit, adalah agama yang dipercaya oleh para pengikutnya dibangun berdasarkanwahyu Allah. Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi jika:
a)      Mempunyai definisi Tuhan yang jelas
b)      Mempunyai penyampai risalah (Nabi/Rasul)
c)      Mempunyai kumpulan wahyu dari Tuhan yang diwujudkan dalam Kitab Suci
Kekudusan atau kesucian agama terletak dan tercermin pada ajaran yang dipandang sakral oleh pemeluknya. Sebagai acuan atau pedoman hidup, setiap penganut agama akan berupaya sedepat mungkin sesuai dengan kapasitas kemampuan masing-masing mengaktualisasi ajaran agamanya dalam perilaku sosial kesehariannya. dalam kondisi seperti ini maka agama akan nampak atau menyatakan dirinya dalam bentuk tingkah laku keagamaan baik secara format individual maupun kelompok, dan secara sosiologis.[5]
Manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu. ketika itu yang diketahui hanyalah “saya tidak tahu”. tetapi kemudian dengan panca indra, akal dan jiwanya sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah. kemudian melalui pengamatan, percobaan pemikiran yang logis dan pengalamannya, ia menemukan pengetahuan. Namun karena keterbatasan panca indra, dan akal menjadikan sekian banyak tanda Tanya dalam benak manusia tidak dapat terjawab. Maka dengan agama-lah informasi Tuhan datang.[6]
Untuk memelihara kelangsungan hidup, masyarakat memerlukan berbagai kebutuhan. Sebagian dari kebutuhan tersebut berbentuk mental spiritual yang bisa dipenuhi oleh ajaran agama. Agama dapat menanamkan dan menimbulkan pesan dan nilai-nilai yang fungsional; menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam rangka tercapainya konsensus tentang norma-norma sosial. Agama mampu berperan membantu memaksa supaya warganya memenuhi an memahami tuntutan kewajiban sosial yang diperintahkan agama, termasuk kewajiban sosial yang digariskan oleh pemerintah dan pembangunan.[7]
Selain itu, agama juga mampu memberi tuntunan pada semua prilaku dan tindakan manusia agam mempunyai makna yang jauh lebih dalam dan tidak terbatas hanya pada efek langsung dari perbuatan itu sendiri. Orang merasa dosa dan yakin akan mendapat siksa bila berbuat aniaya. sebaliknya akan merasa yakin mendapatkan ketentraman serta pahala bila berbuat keutamaan.[8]
Adapun fungsi agama dari segi sains sosial:
1.      Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberipenerangan kepada dunia (secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia.Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikitpenerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwadunia adalah ciptaan Allah SWT dan setiap manusia harus menaati Allah SWT. Begitu juga untuk yang beragama lain dengan kepercayaan kepada Tuhan yg di miliki.[9]
2.    Menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia
Sebagian pertanyaan yang senantiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup,soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab persoalan-persoalan ini.[10]
3.    Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku,pandangan dunia dan nilai yang sama.[11]
4.    Memainkan fungsi peranan sosial
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendirisebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka inidikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.[12]
Adapun bukti-bukti mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain:
1.      Karena agama sumber moral  
2.      Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
3.      Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4.      Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, baik di kala suka maupun di kala duka.[13]
B.     Pengertian Islam, Kafir dan Atheis
Di dalam bab terdahulu telah disinggung bahwa Islam adalah satu-satunya agama murni samawi. Bagaimana dengan halnya agama nasrani dan agama yahudi dalam bentuknya yang murni? kedua agama termaksud dalam bentuknya yang asli tentu saja adalah agama murni samawi. Dan oleh karena itu, kedua agama termaksud dalam bentuknya yang murni menurut Alquran adalah Islam. bahkan menurut Alquran agama yang dianut semua nabi-nabi Allah SWT. itu seluruhnya adalah Agama Islam.[14]
Terlihat dari beberapa firman Allah berikut:
(#þqä9qè% $¨YtB#uä «!$$Î/ !$tBur tAÌRé& $uZøŠs9Î) !$tBur tAÌRé& #n<Î) zO¿Ïdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»oÿôœÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètƒur ÅÞ$t6óF{$#ur !$tBur uÎAré& 4ÓyqãB 4Ó|¤ŠÏãur !$tBur uÎAré& šcqŠÎ;¨Y9$# `ÏB óOÎgÎn/§ Ÿw ä-ÌhxÿçR tû÷üt/ 7tnr& óOßg÷YÏiB ß`øtwUur ¼çms9 tbqãKÎ=ó¡ãB ÇÊÌÏÈ [15]
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
bÎ*sù öNçFøŠ©9uqs? $yJsù /ä3çGø9r'y ô`ÏiB @ô_r& ( ÷bÎ) y̍ô_r& žwÎ) n?tã «!$# ( ßNöÏBé&ur ÷br& tbqä.r& šÆÏB tûüÏHÍ>ó¡ßJø9$# ÇÐËÈ[16]
Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku Termasuk golongan muslimin.
`tBur Ü=xîötƒ `tã Ï'©#ÏiB zO¿Ïdºtö/Î) žwÎ) `tB tmÏÿy ¼çm|¡øÿtR 4 Ïs)s9ur çm»uZøxÿsÜô¹$# Îû $u÷R9$# ( ¼çm¯RÎ)ur Îû ÍotÅzFy$# z`ÏJs9 tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÌÉÈ   øŒÎ) tA$s% ¼ã&s! ÿ¼çmš/u öNÎ=ór& ( tA$s% àMôJn=ór& Éb>tÏ9 tûüÏJn=»yèø9$# [17]ÇÊÌÊÈ  
(130) Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh. (131)Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Islamlah dikau!" Ibrahim menjawab: "Aku telah islam kepada Tuhan semesta alam".
* Éb>u ôs% ÓÍ_tF÷s?#uä z`ÏB Å7ù=ßJø9$# ÓÍ_tFôJ¯=tãur `ÏB È@ƒÍrù's? Ï]ƒÏŠ%tnF{$# 4 tÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur |MRr& ¾ÇcÍ<ur Îû $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur ( ÓÍ_©ùuqs? $VJÎ=ó¡ãB ÓÍ_ø)Åsø9r&ur tûüÅsÎ=»¢Á9$$Î/ ÇÊÉÊÈ [18]
 Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
tA$s%ur 4ÓyqãB ÇPöqs)»tƒ bÎ) ÷LäêYä. LäêYtB#uä «!$$Î/ Ïmøn=yèsù (#þqè=©.uqs? bÎ) LäêYä. tûüÏJÎ=ó¡B ÇÑÍÈ [19]
berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."
* !$£Jn=sù ¡§ymr& 4|¤ŠÏã ãNåk÷]ÏB tøÿä3ø9$# tA$s% ô`tB üÍ$|ÁRr& n<Î) «!$# ( š^$s% šcqƒÍ#uqysø9$# ß`øtwU â$|ÁRr& «!$# $¨YtB#uä «!$$Î/ ôygô©$#ur $¯Rr'Î/ šcqßJÎ=ó¡ãB ÇÎËÈ [20]
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Selanjutnya Allah SWT berkenan mengutus Rasul-Nya, penutup para rasul Allah yang terdahulu itu. Firman Allah:
* !$¯RÎ) !$uZøym÷rr& y7øs9Î) !$yJx. !$uZøym÷rr& 4n<Î) 8yqçR z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ 4 !$uZøŠym÷rr&ur #n<Î) zOŠÏdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètƒur ÅÞ$t6óF{$#ur 4Ó|¤ŠÏãur z>qƒr&ur }§çRqãƒur tbr㍻ydur z`»uKøn=ßur 4 $oY÷s?#uäur yмãr#yŠ #Yqç/y ÇÊÏÌÈ   Wxßâur ôs% öNßg»oYóÁ|Ás% šøn=tã `ÏB ã@ö6s% Wxßâur öN©9 öNßgóÁÝÁø)tR šøn=tã 4 zN¯=x.ur ª!$# 4ÓyqãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ   Wxß tûïÎŽÅe³t6B tûïÍÉYãBur žxy¥Ï9 tbqä3tƒ Ĩ$¨Z=Ï9 n?tã «!$# 8p¤fãm y÷èt/ È@ߍ9$# 4 tb%x.ur ª!$# #¹ƒÍtã $VJŠÅ3ym ÇÊÏÎÈ [21]
(163) Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (164) Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (165) (mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dari rangkaian ayat-ayat termaktub dan termaksud di atas maka jelas dan tegaslah sudah, bahwa menurut Alquran, Islam adalah satu-satunya agama murni samawi, sepanjang masa dan setiap persada. Jadi dalam rangka mendefinisikan Endang Saifuddin membaginya menjadi beberapa point, yaitu:
a)      Agama Islam ialah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulnya untuk segenap umat manusia; sepanjang masa dan setiap tempat.
b)      Satu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala prikehidupan dan penghidupan manusia dalam berbagai huubungan, baik hubungan manusia dengan Tuhannya maupun manusia dengan sesama manusia, ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya (nabati, hewani, dan lain sebagainya).
c)      Bertujuan mencari keridhaan Allah, kebahagiaan di dunia dan di akhirat, rahmat bagi segenap alam.
d)      Pada garis besarnya terdiri atas : Aqidah, Syariah (yang meliputui ibadah dalam arti khas dan mu’amalah dalam arti luas), dan Akhlaq.
e)      Bersumberkan Kitab suci, yaitu kodifikasi wahyu Allah SWT untuk umat manusia di atas planet bumi ini.yaitu Alquran Al-Karim sebagai penyempurna wahyu-wahyu Allah sebelumnya.[22]
Sedangkan pengertian Kufur dalam bahasa arab berarti menyembunyikan dan menutup. Al-Qurthubiy juga menyatakan bahwa asal makna kafir (al-kufr) adalah tertutup (al-sitru wa al-taghthiyah). Oleh karenanya, orang Arab menyebut “malam” dengan kata kafir karena malam menyembunyikan sesuatu sehingga tidak nampak oleh mata.[23]
Kafir adalah lawan dari iman. Jika iman berarti mengetahui Allah maka kafir adalah tidak mengetahui Allah. Jika dikatakan iman adalah taat maka kafir berarti maksiat. Sehingga orang kafir adalah orang yang tidak bisa mengetahui dan memahami Allah dan segala yang datang dari Allah, sehingga tidak bisa percaya kepada-Nya, dan cenderung melakukan maksiat kepada Allah. Definisi lain untuk kafir adalah sebutan bagi orang-orang yang keluar dari landasan islam. Seorang yang kafir dapat melihat dalil-dalil tauhid di hadapannya dan sesuatu yang mendorongnya agar beriman kepada Allah, tetapi dia tetap berbuat dalam kebatilan dan kekufurannya seolah-olah dia tidak dapat melihat dalil tersebut.[24]
Adapun istilah atheis identik dengan orang-orang yang meyakini ketiadaan tuhan. Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.[25]
Jadi secara peyoratif istilah atheis digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis. Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).[26]
Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah. Pada kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius).Beberapa aliran Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah 'Tuhan' dalam berbagai upacara ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik.Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.[27]
Paham Theisme, secara umum didefinisikan sebagai kepercayaan pada adanya paling tidak satu Tuhan/Dewa. Berkebalikan dengan hal ini adalah Paham Atheisme yang dapat didefinisikan secara umum sebagai tidak adanya kepercayaan atas keberadaan Tuhan / setiap Dewa. Kebanyakan ketidaksetujuan atas pendapat ini berasal dari orang-orang Kristen yang bersikeras bahwa ateisme merupakan penolakan atas adanya dewa, atau setidaknya atas adanya Tuhan mereka. Hanya  karena sebatas tidak adanya keyakinan pada Tuhan, mereka mengklaim , baik yang berpandangan agnostisisme - meskipun agnostisisme memiliki definisi tersendiri dan merupakan konsep yang berbeda sekali (dengan Atheisme).[28]
Definisi secara umum dari atheisme yang merupakan definisi paling akurat. Bukan hanya karena menggunakan definisi ateis yang dapat dengan mudah diterima, akan tapi definisi ini didukung dengan sesuatu yang komprehensif, kamus lengkap. Tetapi bukanlah karena menawarkan definisi dari kamus tidak berarti bahwa itu merupakan definisi yang "lebih baik". Kadang kala mungkin untuk beberapa kasus, gagasan bahwa definisi lain akan lebih baik untuk digunakan- mungkin itu dapat menghilangkan kebingungan dan menjadi lebih tepat untuk digunakan.Keunggulan dari definisi secara umum atas definisi secara sempit (dari Atheisme) terletak pada kenyataan bahwa hal itu memungkinkan kita untuk menggambarkan (Atheisme) dengan sudut pandang yang lebih luas.[29]
Bagi mereka yang bersikeras pada definisi yang sempit, ada tiga pandangan dasar:  (1) Teisme: keyakinan pada Tuhan (saya).
(2) Agnostisisme: tidak tahu jika dewa-dewa benar-benar ada.
(3) Ateisme: penolakan terhadap Tuhan (saya).[30]
Secara alami Atheisme memiliki dua poin ciri klarifikasi lebih lanjut yang melibatkan ide-ide umum tentang theisme. Yang pertama melibatkan gagasan tentang "Tuhan" secara metafora - misalnya, seorang Theis yang percaya pada "Tuhan" sebagai prinsip hati nurani atau moralitas. Pada pandangan ini "Tuhan" ada dalam pikiran seseorang dan hal ini tidak dijadikan permasalahan bagi seorang Atheis. Ateis setuju bahwa Tuhan ada sebagai gagasan dalam pikiran masyarakat; ketidaksepakatan terletak di atas apakah Tuhan benar-benar ada secara independen yang berada diluar dari kepercayaan manusia. Mereka inilah para dewa / Tuhan yang tidak diyakini atau ditolak oleh seorang Atheis.[31]
Jenis kedua Theisme melibatkan dewa yang ada sebagai obyek fisik: batu, pohon, sungai, atau bahkan alam semesta itu sendiri. Orang-orang yang meyakini hal tersebut memperlakukan benda-benda ini menjadi dewa-dewa mereka, tapi apakah orang-orang ateis menolak keberadaan mereka? Tentu saja tidak - tetapi bagaimana mereka tetap memiliki pandangan Atheis? Titik ketidaksepakatan di sini adalah apakah label "Tuhan" memiliki ciri yang dapat disandingkan dengan label yang lebih umum dari "batu," "pohon," atau "alam semesta" Jika tidak., inilah yang menjadikan orang-orang ateis prihatin, objek tersebut tidak memiliki ciri daripada "Tuhan" dan menjadikan mereka tetap memilih untuk menjadi Atheis.[32]


[1]Endang Saifuddin Anshari, Agama dan Kebudayaan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1979), 14.
[2]Ibid., 15.
[3]http://tafsirhaditsuinsgdbdgangkatan2009.blogspot.com/2012/04/makalah-manusia-dan-hubungan-antar.html
[4]Ibid.,
[5]Mursyid Ali, Pluralitas Sosial dan Hubungan Antar Agama, (Jakarta: Badan Penelitian Pengembangan Agama, 1999), 2.
[6]Shihab, Membumikan Al-Quran…, 211.
[7]Mursyid Ali, Pluralitas Sosial dan Hubungan Antar Agama, (Jakarta: Badan Penelitian Pengembangan Agama, 1999), 5.
[8]Ibid.,5.
[9]http://abdulrais12415.blogspot.com/2013/02/hubungan-manusia-dengan-agama.html
[10]Ibid.,
[11]Ibid.,
[12]Ibid.,
[13]Ibid.,
[14]Anshari, Agama dan Kebudayaan…, 21.
[15]Al-Baqarah: 136.
[16]Yunus:72.
[17]Al-Baqarah:130-131.
[18]Yusuf: 101.
[19]Yunus: 84.
[20]Ali Imran: 52.
[21]An-Nisa’: 163-165.
[22] Anshari, Agama dan Kebudayaan…, 21
[23]http://pmat-sukijo.blogspot.com/2011/03/pengertian-iman-islam-dan-kafir.html
[24]ibid.
[25]PENGERTIAN ATHEISME _ JURNAL.htm
[26]Ibid.,
[27]Ibid.,
[28]Ibid.,
[29]Ibid.,
[30]Ibid.,
[31]Ibid.,
[32]Ibid.,

0 komentar:

Posting Komentar