Sabtu, 01 November 2014

makalah wujuh dan nazhair

WUJUH DAN NAZHAIR
A.      Definisi  Wujuh dan Nazhair
Permasalahan tentang al-wujûh wa al-nazhâ`ir ini pertama kali diperkenalkan oleh Muqatil bin Sulaiman, yang kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya seperti Ibn Jauzi, Ibn Dâmighânî, Abu al-Husain Muhammad ibn Abd Shamad Al-Mishri, dan lain-lain.
Ibnu jauzi mendefinisikan al-Wujûh wa al-Nazhâ`ir sebagaimana dikutip oleh Salwâ Muhammad yaitu “adanya suatu kata yang disebutkan dalam tempat tertentu dalam al-Qur’ân dengan suatu lafazh dan harakat tertentu, dan dimaksudkan untuk makna yang berbeda dengan tempat lainnya. Maka, kata yang disebutkan pada suatu tempat yang sama maknanya dengan yang disebutkan pada tempat lainnya disebut nazhâ`ir dan makna setiap kata yang berbeda pada setiap tempatnya disebut wujûh, jadi nazhâ`îr adalah sebutan untuk lafazh dan wujûh sebutan untuk makna yang beragam.
Ilmu wujuh dan nazhair ialah ilmu yang membahas kata-kata dalam Alquran yang mempunyai banyak arti dan makna yang di maksud dalam satu ayat. Wujuh ialah lafal yang digunakan untuk beberapa makna, sedang nazhair ialah lafal-lafal yang berhampiran maknanya.[1]
Wujuh merupakan kata dalam Alquran yang digunakan dalam berbagai tempat dan memiliki tunjukan makna yang sama. Sementara nazhair adalah lafaz yang mempunyai satu makna tertentu yang tetap sekalipun digunakan dalam berbagai tempat. Di sisi lain, al wujuh wa alnazhair dipahami sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, hanya saja ia dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Suatu kata dalam Alquran yang terdapat pada beberapa tempat yang beragam merujuk kepada makna yang berbeda. Maka, perbedaan makna itu merupakan wujuh, sementara kata itu sendiri yang tetap sama pada berbagai tempat merupakan nazhair. Sedangkan nazhair adalah kata yang hanya mempunyai satu makna yang tetap. Sama halnya dengan makna leksikal adalah makna kata yang tidak berubah maknanya seperti yang tertulis dalam leksikon atau kamus, seperti ayam: binatang unggas yang bertelur.[2]
B.       Beberapa Contoh Wujuh Dan Nazhair
Diantara lafazh-lafazh yang termasuk dalam kategori wujuh adalah kata “al- huda”. Yang mencakup enam belas arti kata tersebut dalam berbagai tempat di antaranya ialah:
1.      Dengan arti menguatkan atas tatsbit atau tetapan. (1:6)
اهدنا الصراط المستقيم
Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus
2.      Al Bayan atau penjelasan (2:5)
أؤلئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
3.      Addin atau agama (3:73)
وَلا تُؤْمِنُوا إِلا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujahmu di sisi Tuhanmu". Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui";
4.      Imam (19:76)
ويزيد الله الذين اهتدو هدى والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير مردا
Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.
5.      Addu’a (21:73)
وجعلناهم أئمة يهدون بأمرنا واوحينا إليهم فعل الخيرات وإقام الصلات وإيتاء الزكاة وكانو لنا عابدين
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah,
6.      Rasul dan kitab (20:123)
 قال اهبطا منها جميعا بعضكم لبعض عدو فإنما يأتينكم مني هدى فمن اتبع هداي فلا يضل ولا يشقى
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
7.      Ilmu ( 71:16)
وجعل القمر فيهنّ نورا وجعل الشمس سراجا
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?
Diantara lafazh-lafazh yang masuk dalam kategori nazhair adalah kata “al barru” yang selalu bermakna darat dan “al barru” yang bermakna laut dan juga “al ardhu” yang bermakna bumi dan kata “as samawat” yang selalu bermakna langit. Misalnya dalam ayat:[3]
a.       Q.S al An’am ayat 59
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.
b.      Q. S Yunus ayat 22
هو الذي يسيركم في البر والبحر
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan.
c.       Q. S al Isra’ ayat 70
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[4]
C.      Urgensi mempelajari ilmu wujuh dan
Ada tig manfaat mempelajari ilmu ini di antaranya ialah: 
1)      Dapat mengatahui makna suatu kata dalam Alquran secara tepat menurut konteksnya
2)      Dapat mengatahui cakupan makna-makna dari suatu kata dalam Alquran
3)      Dapat mengatahui salah satu aspek kemukjizatan Alquran.[5]

4)      Dalam menafsirkan al-Qur’an selain memperhatikan teksnya, juga memperhatikan konteksnya, karena tidak semua lafadz-lafadz yang ada dalam ayat al-Qur’an itu menghendaki makna dasarnya (sesuatu yang melekat pada kata itu sendiri, yang selalu terbawa dimanapun kata itu diletakkan), terkadang yang dikehendaki adalah makna relasionalnya (sesuatu yang konotatif yang diberikan dan ditambahkan pada makna yang sudah ada dengan meletakkan kata itu pada posisi khusus dalam bidang khusus).

5)      Kaidah kebahasaan tidak bisa dilepaskan dalam menafsirkan Alquran. Ini merupakan salah satu bukti konkret yang tidak bisa dielakkan.


[1] Mukhtob Hamzah, Study Alquran Komprehensif,(Yogyakarta: Gama Media), hal. 172
[2]Asul Wiyanto, Kitab Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher), hal. 31
[3]Mukhtob Hamzah, Study Alquran Komprehensif,(Yogyakarta: Gama Media), hal. 172-173.
[4]Ibid. 173
[5]Ibid.

0 komentar:

Posting Komentar