Minggu, 07 Desember 2014

surat al-A'raf 85-102



Al-a’raf  85-102
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ{

وَلاَ تَقْعُدُواْ بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجاً وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ وَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ{

وَإِن كَانَ طَآئِفَةٌ مِّنكُمْ آمَنُواْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَآئِفَةٌ لَّمْ يْؤْمِنُواْ فَاصْبِرُواْ حَتَّى يَحْكُمَ اللّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ{

{قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ}
{قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّهِ كَذِباً إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُم بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَن نَّعُودَ فِيهَا إِلاَّ أَن يَشَاءَ اللّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً عَلَى اللّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ{

وَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْباً إِنَّكُمْ إِذاً لَّخَاسِرُونَ }

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ{

الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْباً كَأَن لَّمْ يَغْنَوْاْ فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْباً كَانُواْ هُمُ الْخَاسِرِينَ{

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِن لاَّ تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ{

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ{

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَواْ وَّقَالُواْ قَدْ مَسَّ آبَاءنَا الضَّرَّاء وَالسَّرَّاء فَأَخَذْنَاهُم بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ }

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ }

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ{

أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ{

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ{

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأَرْضَ مِن بَعْدِ أَهْلِهَا أَن لَّوْ نَشَاء أَصَبْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ{

تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَآئِهَا وَلَقَدْ جَاءتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُواْ لِيُؤْمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ مِن قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللّهُ عَلَىَ قُلُوبِ الْكَافِرِينَ{

وَمَا وَجَدْنَا لأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِين{

Terjemah surat Al a’raf ayat 85-102

85. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan[552] saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.

86. Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

87. Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

88. Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”

89. Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

90. Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi”.

91. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,

92. (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

93. Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

94. Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

95. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

101. Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

Asbabun Nuzul
Turunnya ayat ini berkaitan dengan  kaum madyan yaitu kaum Nabi Syuaib tidak bersyukur kepada Allah disamping mereka mempersekutukannya. Ahlak mereka sangat buruk sehingga kehidupan mereka bergelimbang dalam penipuan, sampai kepada urusan tukar-menukar, timbang menimbang, menurut suatu riwayat jika orang asing datang berkunjung mereka sepakat menuduh bahwa uang yang dibawa orang asing itu palsu, dengan demikian mereka menukarnya dengan harga (kurs) yang rendah sekali, kepada kaum ini Allah mengutus Nabi Syuaib agar dia menunjukkan kapada mereka jalan yang benar dan meninggalkan kecurangan dalam tukaran dan timbangan.

Ibrah dari ayat diatas

1) Memelihara hubungan harmonis khususnya dalam interaksi keuangan, menyeimbangkan takaran dalam berbisnis tanpa adanya kecurangan.  
2) anjuran tidak melakukan kerusakan di bumi.
3) ketika ada kerusakan pada alam maka bencana yang akan datang
4) sebuah bencana atau pun siksaan datangnya selalu tiba-tiba dalam keadaan mereka tidak menyadarinya
5) bersabar dalam memutuskan sebuah perkara terdapat pada ayat 89.
6) mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu, tidak angkuh, tidak durhaka, dan tidak pula tenggelam dalam kehidupan meteri.


balagho



ISTIARAH TAMSILIYAH
Kaidah: susunan kalimat yang digunakan bukan pada makna aslinya dikarenaka adanya hubungan keserupaan (antara makna asli dan makna majazi) disertai adanya karinah yang menghalangi pemahaman terhadap kalimat tersebut dengan maknanya yang asli.
Contoh dari Latihan-latihan (نموذج):
1)      Diantara pribahasa orang Arab:
Sebelum memanah, wadah anak panah harus penuh.
(kalimat ini disampaikan kepada orang yang akan membangun rumah, namun belum cukup biayanya).
2)      Engkau melukis dipermukaan air.
(kalimat ini disampaikan kepada orang yang menekuni suatu urusan yang tidak mungkin dapat ia capai dengan tuntas.
Contoh dari تمرينات:
1)      Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memetik buah anggur dari pohon duri.
2)      Engkau meniup abu.
3)      Jangan menabur intan di hadapan babi-babi.
4)      Berburu disarang singa.
5)      Busur itu telah dipegang oleh ahlinya.
6)      Engkau anggap gemuk orang yang bengkak.
7)      Engkau memukul besi yang telah dingin.
8)      Ia membangun gedung tanpa fondasi.
9)      Setiap pedang ada bagian yang tidak tajam.
10)  Seorang mukmin tidak akan dipatuk dua kali dari satu lubang.
11)  Sumber air yang tawar banyak diperebutkan.
12)  Ikatlah untamu, lalu twakallah kepadanya.
13)  Engkau menuai apa yang engkau tanam.
14)  Tarulah timbamu dengan timba-timba lain.
15)  Mereka menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri.
16)  Sesungguhnya besi dapat dipotong dengan besi lainnya.

MAJAZ AQLI

Kaidah: penyandaran fiil atau kata yang menyerupainya kepada tempat penyandaran yang tidak sebenarnya karena adanya hubungan dan disertai karinah yang menghalangi dipahaminya sebagai yang hakiki.
Penyandaran majazi adalah penyandaran kepada sebab fiil, waktu fiil, tempat fiil, atau masdarnya, atau penyandaran isim mabni fail kepada maf’ulnya, atau isim mabni maf’ul kepada failnya.
Contoh dari Latihan-latihan (نموذج):
1)      Abu Thayyib berkata:
Wahai Abal-Misk, aku mengharap pertolongan darimu untuk menghadapai musuh-musuhku, dan akku mengharapkan kemenangan yang melumurkan pedang dengan darah. Dan saya mengharapkan suatu hari yang membuat kemarahan orang-orang yang dengki (kepadaku), dan suatu keadaan yang menempatkan kesengsaraan di tempat kenikmatan.
2)      Allah Swt. Berfirman:
(Nuh berkata), “tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah kecuali Allah (saja) yang maha penyayang.”
3)      Kami berangkat ke kebun yang banyak bernyanyi.
4)      Ismail membangun banyak madrasah di mesir.
5)      Abu Tamam berkata:
Hampir-hampir pemberiannya kegila-gilaan bila tidak diobati oleh ruqyah peminta-minta.
Contoh dari تمرينات:
1)      Allah Swt. Berfirman:
Dan apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang aman?
2)      Rumah itu ramai dan kamarnya terang.
3)      Keagungan menjadi agung ketenarannya. (seseorang sangat agung dan terkenal).
4)      Wahai ummu Ghailan, kamu telah mencelaku karena berjalan malam, sedangkan kamu tidur, padahal kendaraan yang berjalan malam tidaklah tidur.
5)      Ketika kami berkuasa, sifat pemaaf bagi kami merupakan tabiat, dan ketika kamu berkuasa, maka seluruh lembah mengalirkan darah.
6)      Zaman mengadu domba diantara mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka.
7)      Wahai Hman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu(yaitu) pintu-pintu langit.
8)      Kami duduk menghadap minuman yang tawar airnya memencar.
9)      Hari-hari akan menempatkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak  mengetahuinya, dan datang kepadamu oarang yang tidak kamu beri bekal dengan membawa beberapa kabar.
10)  Ia bernyanyi seperti lengkingan suara pepohonan dan pagi menggugah burung-burungnya.
11)  Sesungguhnya kami teman-teman dari suatu kaum yang para pendahulunya binasa dalam peperangan, yang penuh keberanian dan menolong orang-orang yang meminta tolong.
KINAYAH
Kaidah: lafaz yang dimaksudkan untuk menunjukkan pengertian lazimnya. Tetapi dapat dimaksudkan untuk makna aslnya.
Ditinjau dari suatu yang berada dibalik kinayah, maka kinayah ada tiga macam karena sesuatu yang dijelaskan dengan kinayah itu ada kalanya berupa sifat, ada kalanya berupa maushuf, dan ada kalanya berupa nisbat.
Contoh dari Latihan-latihan (نموذج):
1)      Al amautanabbi berkata tentang pertempuran Saifud Daulah dengan Bani Killab:
Ia mendatangi mereka di sore hari, hamparan mereka adalah sutera. Dan ia mendatangi mereka di waktu pagi, dan hamparan mereka adalah tanah.
Orang yang memegang batang tombak dari mereka, bagaikan orang yang memegang pacar (untuk mewarnai ujung-ujung jari).
2)      Ia berkata dalam memuji Kafur:
Sesungguhnya dalam pakaianmu terdapat keagungan yang darinya terpancar sinar yang menyilaukan sinar-sinar lainnya.
Contoh dari تمرينات:
1)      Kami adalah orang yang banyak tidur di waktu dhuha(orang kaya)
2)      Ia meletakkan tongkatnya (berhenti untuk istirahat)
3)      Wanita itu orang yang lembut kedua telapak tangannya (orang kaya).
4)      Fulan menghentakkan giginya (marah).
5)      Banyak ditunjuk oleh jari-jari telunjuk (orang terkenal).
6)      Akhirnya ia membolak-balikkan kedua telapak atngannya terhadap apa yang ia infakkan, sedangkan telapak tangnnya itu kosong (usaha yang susah tidak membawa hasil).
7)      Ia naik dua sayap burung unta (cepat larinya).
8)      Malam-malam itu menjadikannya menempalkan telapak tangan ke tongkatnya (tiada pernah berhenti sepanjang jalan).