A.
Biografi
Zainuddin al-Hamidy
Haji
Zainuddin Hamidy lahir di Kota Nan IV Payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907.
Anak dari Abdul Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara, Kakaknya
bemama Nahrawi, istri dari Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang
didaerahnya. Dia memiliki 5 orang saudara sebapak, seperti Zainullah,
Amiruddin, Salim, Mariam, dan Bermawi. Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy
di kampung halamannya. Abdul Hamid, ayahnya terkenal sebagai seorang berilmu,
terutama ilmu agama yang mendalam, maupun ilmu bela diri silat. Beliau memiliki
sifat percaya diri yang tinggi, pemberani dan suka menolong orang lain. Ia sering
menghadapi preman atau parewa pasar yang suka memeras dan menganiaya masyarakat
lemah. Karena keberanian dan kepiawaiannya dalam bela diri inilah masyarakat
memberikan julukan padanya dengan orang bagak (orang yang pemberani).[1]
Keberadaan bapaknya yang merupakan “orang
bagak” di kampungnya, tidak membuat Zainuddin sombong, ia selalu bersikap baik
kepada semua orang. Zainuddin di waktu kecilnya tidak suka bermain seperti
kebanyakan anak sebayanya, ia lebih suka belajar. Paling dia hanya bermain bola
yang merupakan olaah raga kesukaannya. Bahkan hobi main bola ini dibawa sampai
beliau dewasa. Menurut keterangan murid beliau, H. Haffash Shamah, Buya
Zainuddin bila tidak mengajar, sering bermain bola dengan murid-muridnya dan
pemuda sekitar pesantren yang dia dirikan.[2]
Zainuddin Hamidy adalah seorang yang
ramah tamah, tapi konsekuen, ulet dan tidak pernah berputus asa. Beliau tidak
banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau banyak tersenyum dan memiliki
wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli agama dan tokoh masyarakat yang
selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan ilmu dan kealimannya,
masyarakat Koto dan Ampek menggelari beliau dengan gelar “Angku Mudo”
yang berarti seorang ahli agama yang masih muda. Kepada murid-muridnya, Buya
Zainuddin Hamidy juga bersikap ramah dan santun. Sekalipun bersikap tenang dan
santun, Namun Buya Zainuddin Hamidy terkenal sangat disiplin dalam mengajarkan
pendidikan, baik kepada murid-muridnya bahkan juga kepada anak-anak beliau.
Setelah menikah dengan Rahmah binti
Abu Bakar, Buya Zainuddin Hamidy berangkat ke Mekkah pada tahun 1927 untuk
menunaikan ibadah Haji dan menuntut ilmu dengan meninggalkan istri tercintanya.
Setelah belajar beberapa tahun dan merasa cukup waktu dalam menuntut ilmu
agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya dalam usia yang relative
muda. Setelah sampai di Payukumbuh, beliau kemudian menikahi Desima Jasin.
Dengan Desima Jasin ini, Zainuddin Hamidy memiliki tujuh orang anak.
H. Zainuddin Hamidy wafat pada hari
jum’at tanggal 29 Maret 1997 secara tiba-tiba di kamar di samping sekolahnya,
Ma’had Islami, setelah kembali dari Jakarta berunding dengan Presiden Soekarno.
Beliau meninggalkan 2 orang istri, yaitu Rahmah binti Abu Bakar dan Desima dari
keduanya beliau dikaruniai 14 orang anak. Dari istri pertama beliau memiliki 7
orang anak, begitu juga istri kedua beliau dikarunia 7 orang anak.
Meninggalnya Syaikh Haji Zainuddin
Hamidy membuat Sumatra Barat berkabung. Umat Islam, khususnya masyarakat
Payukumbuh merasa kehilangan tokoh yang seluruh hidupnya di dedikasikannya
untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan umat Islam Sumatera Barat dan
Indonesia pada umumnya.
Disamping melewati pendidikan
nonformal tradisional yaitu surau, Zainuddin Hamidy juga menempuh pendidikan
formal. Selama lima tahun, ia sekolah di sekolah governement di Payakumbuh.
Setelah tamat dari sekolah ini, ia melanjutkan belajar di sekolah Darul Funun
al-Abbasy di Padang Japang. Madrasah Darul Funun ini merupakan sebuah lembaga
pendidikan yang telah mengalami perubahan, baik dalam system pendidikan maupun
dalam fasilitas yang digunakan. Sekolah ini telah memakai system klasikal dan
para muridnya telah belajar dengan mempergunakan fasilitas bangku, meja, dan
berpakaian rapi seperti memakai kemeja, dasi dan jas. Di Madrasah Darul Funun
ini, Zainuddin Hamidy belajar al-Qur’an, ilmu tafsir, bahasa arab, dan
ilmu-ilmu lainnya. Zainuddin dikenal dengan murid yang cerdas. Hal ini terbukti
ketika ia duduk di bangku terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar
kelas lima.[3]
Buya Zainuddin Hamidy seorang ulama
yang cerdas, Karena kecerdasan dan kepintarannya, pimpinan Madrasah Darul Funun
al-Abbasy, Syaikh Abdullah Abbas menginginkan Zainuddin sebagai penggantinya
mengajar di Darul Funun. hanya saja, Zainuddin merasa ilmunya belum
cukup. Ia memilih melanjutkan pendidikan ke Makkah. Tahun 1927, dengan
meninggalkan istri tercinta, Rahmah, Zainuddin Hamidy berangkat ke mekah. Di
kota ini Zainuddin beliau menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal
masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama
yang sekolah di perguruan ini. Di perguruan yang terkenal itu Zainuddin belajar
selama lima atau enam tahun beliau kembali ke tanah air pada 1932 dalam usia
yang masih relative muda.
Syaikh Zainuddin Hamidy dikenal luas
ahli agama, hafiz, ahli hadits, pengarang, disamping sebagai tokoh pendidikan.
Sering pula beliau disebut sebagai politikus, organisator, pemikir yang
berpandangan jauh jauh ke depan dan berpikir jernih. Selain aktif dalam
mengajar, Zainuddin Hamidy juga banyak menulis buku. Sayangnya buku-buku ini
banyak yang hilang ketika Belanda dan Jepang mengobrak-abrik pesantren Ma’had
Islamy dan rumah Buya Zainuddin Hamidy. Beberapa karya tulisnya antara lain:
1)
Terjemahan al-Qur’an Karim, merupakan
Tafsir Al-Qur’an pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan
Fakhruddin HS berdasarkan periodisasi tafsir di Indonesia, tafsir ini
merupakan generasi ke-IV yakni abad-20 jadi dikarang sekitar tahun 1963-an.
2)
Terjemahan Shahih Bukhari, beliau
karang bersama Darwis Z dan Fakhruddin HS tahun terbit kedua 2006.
3)
Terjemahan Hadits Arba’in, kitab
tauhid dan Musthalahul Hadits, kitab terakhir ini merupakan salah satu pegangan
beliau ketika mengajar ilmu hadits di Training Collage Payakumbuh dan PGA A
Bukittinggi.[4]
B.
Biografi Hs.
Fachruddin
Pada
abad ke 19 M. hidup seorang ulama yang cukup terkenal di Situjuh Batur pada
waktu itu yaitu H. Husein gelar Tuanku Khatib. Istrinya bemama Hj.
Putiah Fathimah. Sebagai seorang ulama, H, Husein sering memberikan
ceramah agama di berbagai masjid dan surau. Dari perkawinannya dengan Hj. Putiah
Fathimah, H. Husein dikaruniai dua orang anak yaitu H. Fachruddin HS Dt. Majo
Indo dan Makinuddin HS. Fachruddin HS Datuk Majo Indo lahir pada tahun 1906.
Secara genetik, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo merupakan keturunan "darah biru
ulama". Disamping ayahnya, Tuanku Khatib, sebagai ulama yang
disegani di Situjuh Batur, kakak H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo yang bernama Ismail
juga dikenal sebagai ulama berpengaruh di daerahnya pada masanya.
Kakek H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo ini popular dipanggil "Inyiak Datuk". H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo sejak masa kanak-kanak telah diperkenalkan oleh orang tuanya serta kakekya tentang ilmu agama Islam. Ketika berumur lima tahun, beliau telah diajarkan membaca Al-Quran dan sering dibawa ayahnya pergi berdakwah ke berbagai tempat. Pelajaran agama yang dipelajari ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 6 dan tujuh tahun, disamping terus belajar membaca Af-Wan, beliau juga diajari membaca Arab Melayu. Pada tahun 1916, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo masuk Sekolah Dasar Biasa. Setelah menamatkan Sekolah Dasar Biasa ini, selanjutnya H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo belajar secara non-formal ke beberapa guru di sekitar daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1921 hingga tahun 1922, beliau belajar dengan Tuanku Mudo Hamzah di sebuah sekolah di Air Tabit. Pada tahun 1923 sampai tahun 1927 beliau berguru kepada Engku Mudo Ahmad Karung.
Orang tua H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo menginginkan anaknya untuk belajar agama Islam lebih intens ke "pusaY" agama Islam itu sendiri. Untuk itu H. Husein clan Hj. Putiah Fathimah menyuruh anaknya pergi ke Mekkah belajar ilmu agama Islam. Namun H. Fachruddin HS Dt. Majo lndo menolak tanpa alasan yang cukup jelas. Tampaknya beliau lebih suka belajar di sekolah biasa clan belajar dari satu guru ke guru lainnya di berbagai surau. Sewaktu beliau masih belajar pada Engku Mudo Ahmad Karung, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo melangsungkan pemikahan dengan gadis sekampungnya bernama Itam. Pernikahan IN berlangsung pada tahun 1923 ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 17 tahun. Pernikahan H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo dengan Itam ini fidak dikaruniai oleh Allah SWT. keturunan. Pada tahun 1925, beliau melangsungkan pernikahannya yang kedua dengan Yulinun.
Kakek H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo ini popular dipanggil "Inyiak Datuk". H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo sejak masa kanak-kanak telah diperkenalkan oleh orang tuanya serta kakekya tentang ilmu agama Islam. Ketika berumur lima tahun, beliau telah diajarkan membaca Al-Quran dan sering dibawa ayahnya pergi berdakwah ke berbagai tempat. Pelajaran agama yang dipelajari ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 6 dan tujuh tahun, disamping terus belajar membaca Af-Wan, beliau juga diajari membaca Arab Melayu. Pada tahun 1916, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo masuk Sekolah Dasar Biasa. Setelah menamatkan Sekolah Dasar Biasa ini, selanjutnya H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo belajar secara non-formal ke beberapa guru di sekitar daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1921 hingga tahun 1922, beliau belajar dengan Tuanku Mudo Hamzah di sebuah sekolah di Air Tabit. Pada tahun 1923 sampai tahun 1927 beliau berguru kepada Engku Mudo Ahmad Karung.
Orang tua H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo menginginkan anaknya untuk belajar agama Islam lebih intens ke "pusaY" agama Islam itu sendiri. Untuk itu H. Husein clan Hj. Putiah Fathimah menyuruh anaknya pergi ke Mekkah belajar ilmu agama Islam. Namun H. Fachruddin HS Dt. Majo lndo menolak tanpa alasan yang cukup jelas. Tampaknya beliau lebih suka belajar di sekolah biasa clan belajar dari satu guru ke guru lainnya di berbagai surau. Sewaktu beliau masih belajar pada Engku Mudo Ahmad Karung, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo melangsungkan pemikahan dengan gadis sekampungnya bernama Itam. Pernikahan IN berlangsung pada tahun 1923 ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 17 tahun. Pernikahan H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo dengan Itam ini fidak dikaruniai oleh Allah SWT. keturunan. Pada tahun 1925, beliau melangsungkan pernikahannya yang kedua dengan Yulinun.
C.
Corak dan Metodologi
Penafsiran
Manhaj yang digunakan oleh Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs dalam
menafsirkan al-Qur'an ini tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kitab
tafsirnya ini, apakah tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-ra'yi atau tafsir bi
al-isyari. Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan Fachruddin
dalam menafsirkan al-Qur'an, manhaj yang digunakan oleh beliau adalah manhaj
tafsir bi al-ra'yi / bi al-ijtihadi.[5]
Dari hasil kajian terhadap metode tafsir Zainuddin Hamidy, bila ditinjau
dari sudut sistimatika penulisannya, jelas beliau menggunakan metode tahlili,
karena beliau menafsirkan ayat al-Quran secara urut sesuai dengan urutan ayat
dan surat dalam al-Qur'an, yaitu dimulai dengan surat al-fatihah dan diakhiri
dengan surat al-Naas.
Warna Tafsir Qur'an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs ini walaupun
tidak secara nyata mengarah kepada salah warna yang ada, paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari uraiannya
menuju pada warna sosial kemasyarakatan (Adab
Ijtima'i). Kalau pemakalah melihat rujukan tafsir ini, karena kebanyakan tafsir
tahlili merujuk pada Tafsir Jalalain dan Tafsir Ath-Thabari.
karya tersebut di atas bercorak umum
dimana tidak terdapat cirikhas atau domain tertentu diantar corak-corak
tafsir yang ada, akan tetapi karya tersebut tidak lebih dari sekedar
terjemahan dan penjelasan akan ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan.
Salah satu contoh penafsir Zainuddin
al-Hamidy dan Hs. Fachruddin dalam surat al- Saba’ ayat 3:
وَقَالَ الَّذِينَ
كَفَرُوا لا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ
الْغَيْبِ لا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي
الأرْضِ وَلا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرُ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan orang-orang yang
kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami".
Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang gaib,
sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi
daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan
tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan
tersebut dalam Kitab yang nyata.
Zainuddin Hamidi dan Fachrudin HS
menafsirkan kata dzarrah dengan debu. Pada tahun 20an Mahmud Yunus menafsirkan
kata dzarrah dengan biji bayam. Pada tahun 1966 terbit Tafsir Al-Azhar yang
menafsirkan kata dzarrah dengan atom.
[1]Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para
Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 423.
